Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

yang di tulis

Blog EntryDec 13, '11 10:28 PM
for everyone

Akhirnya menginjak tanah kalimantan. Walau Cuma diujungnya aja, walau Cuma 32jam aja. Ternyata yang diinjak pertama adalah kota balikpapan. dari internat gw nemuin peta wisata di balikpapan (walaupun peta itu ternyata sedikit menyesatkan). Lumayan peta itu bisa bantu untuk nemuin beberapa tujuan. Sebelum berangkat juga cari tempat menginap yang murah sekali di balikpapan, tapi hasilnya tidak memuaskan. Iseng tanya ke beberapa orang tentang penginapan, eh malah ditunjukkan kenalan baru (plus tempat bermalam). Berkat Khi, yang bertanya ke Daeng Ipul akhirnya bisa berkenalan dengan Kak Yani.

Kepikiran, tiket akan mahal, akhirnya sabtu malam pergi ke agus travel yang ada di dekat pelabuhan. Beli tiket ferry KM Madani seharga 170k tujuan Balikpapan (harga di tiket 175k). Di tiket tertulis jam 13.00 wita akan berangkat. Hari minggu datanglah ke pelabuhan jam 11. ternyata ada sebuah pengumuman selebar kuarto yang tulisannya kapal baru tiba jam 5sore dan berangkat jam 8malam. Waduh dikerjain kapal lagi. Terpaksalah kembali ke mess walaupun hujan cukup deras. Sampai di pelabuhan lagi jam 6sore. Kapal Dobonsolo yang mau ke balikpapan sudah berangkat sekitar jam6. Sedang si Madani belum juga bersandar. Si kapal baru sandar jam 9malam. Ga terlalu banyak ternyata penumpang yang menunggu kapal ini. Setelah keluarin truk-truk dari balikpapan dari bagian bawah kapal, akhirnya penumpang manusia sipersilahkan masuk. Gantian deh truk-truk besar yang isinya kebnayakan buah-buahan yang masuk ke dalam kapal. Penumpang yang kelas lesehan dikumpulkan di satu tempat. Hanya satu ruangan. Ada kasur-kasur yang sudah dijejer. Di dinding ada tulisan sewa kasur Rp.10.000/buah. Di ruangan sebelah ada tempat tidur bertingkat. Ada yang ada kasur ada yang tidak. Ruangan itu untuk supir. Ada ruangan penumpang lainnya, kelas ekonomi. Sama-sama bertingkat tapi lebih kecil lokasinya ga kaya barak pengungsian. Tapi sepertinya (yang gw liat) ga ada yang naik disana. Penumpang banyak di kelas lesehan n supir. Sekitar jam 00.30 hari senin, akhirnya kapal mulai bergerak. Langit berawan tebal. Tapi untungnya ga bergoyang tuh kapal.

Ohya di kapal ferry ini ada kamar mandi yang dekat dengan ruang lesehan. Kamar mandi perempuan hany berfungsi satu dari 3 yang ada. Kamar mandi lelaki yang berfungsi semuanya. Ada juga “warung”, yang dijual yah kopi, teh, rokok, mie kemasan cup dan makanan ringan (jangan tanya harga, karena gw ga beli). Ada juga pastry (untuk ambil makanan) yang disebelahnya ada kotak air panas (untuk penumpang). Ada musholla yang letaknya paling belakang dibawah. Mushollah kecil dengan tempat wudhu yang kecil juga. Ada juga restoran yang tempatya ada bangku dan meja yang lumayan agak banyak tapi yang dijual juga ga jauh beda ma warung. Kalau malam setelah jam 8 ada penyanyi disana.

Jam 7 pagi, ada info untuk ambil sarapan. Selain kelas lesehan dan supir, sarapan akan diantar ke kamar masing-masing. Sarapannya nasi goreng merah n telur dadar. Dan cukup berasa. Makanan ini dimasukan dalam kotak styrofoam yang dilengkapi sendok plastik. Petugas juga kasih satu air gelas. Makan siang diumumkan jam 11, bawa karcis, ditandain, ambil makanan di pantry. Menunya nasi dan mie goreng ikan teri. Cukup berasa juga dan nasinya bagus. Makan malam jam 5sore dibagikan. Menunya nasi, bihun goreng dan tahu tepung. Tetep masih berasa di lidah. Kalau dilihat takaran nasi yang banyak hanya sarapan, makan siang dan malam takarannya lebih kurang.

Cuaca seharian bisa dbilang selalu berawan tebal, walau tak hujan. Sempat hujan tapi ga lama. Tapi yang penting kapal ga bergoyang. Akhirnya hari selasa jam 3.30pagi, kapal bersandar di pelabuhan balikpapan. Hmm ternyata semua pelabuhan sama yah. Pas berangkat ada tempat nunggu, tpai kalau pulang yang asal turun aja, ga ada tempat tunggu.

Di pelabuhan para penjemput, supir travel, plus porter barang sudha menunggu. Ga terlalu banyak sih, cenderung sepi. Sedikit menengok ke pelabuhan ternyata ada yang sudha tunggu kapal. Mereka gelaran dengan barang bawaannya. Tidur dengan alas tikar plastik yang dijual seharga 5k.

Jadi ingat di pelabuhan soekarno hatta makassar banyak orang yang sudah nunggu kapal lama dan bergeletakan di lantai, bahkan ada yang bawa anak nya.

Sekitar pelabuhan masih sangat sepi. Ga ada kendaraan yang berlalu lalang. Di depan pelabuhan juga terlihat gelap. Tak ada lampu jalan yang hidup. Untungnya msih ada lampu dari dalam area pelabuhan.

Menunggu di mesjid terdekat yang letakknya di area Lanal. Titip ktp menunggu subuh. Untung dibolehkan menunggu disini. Tanya ke salah satu petugas disana, ternyata dia ga tau tentang info yang mau gw tanyakan. Di dekat lanal ada gerbang masuk ke kilang minyak. Dan disana penjaganya. Polisi. Dari bapak polisi yang ada disana di dapatlah rute ke tujuan pertama, gua jepang. Letaknya di daerah pertamina dekat gunung dubbs. Di balikpapan, bukit disebut gunung. Bapak polisinya ini juga belum pernah kesana tapi dia tau info itu (hebat juga), termasuk kalau gua itu sudah ditutup. Pak polisi ini juga berbaik hati mengantar ke komplek pertamina untuk lihat pemandangan kota balikpapan dari atas (saat menjelang pagi). Menurut bapaknya dulu komplek ini ga bisa dilalui umum, tapi sekarang bisa dilewati umum. Masuk ke komplek pertamina lewat jalan dekat tugu Australia (yang ada di jalan Sudirman). Memasuki jalan ini berasa seperti di kebun raya cibodas. Udaranya enak, hijau dengan pohon-pohon beringin, cemara dan lainnya. Jalanannya menanjak terus. Beberapa rumah yang terlihat luas letakknya berjauhan, dengan gaya rumah jadul. Kalau naik kendaraan ga sampe 5 menit untuk ke atas dari jalan sudirman. Sampailah di tanjakan yg terlihat kota balikpapan. Matahari baru akan terbit, tapi sayangnya bentuknya telur dadar. Dari sini terlihat kota yang penuh dengan bangunan, berdampingan dengan laut. Terlihat kecil. Ga lama ada di tanjakan (kl ga salah namanya jalan sumba). Tanjakan ini belum banyak dilalui kendaraan, selama naik Cuma ketemu satu motor dan mobil dan 4 orang yang lari di daerah komplek pagi itu. Turun lah kembali ke jalan utama. Diajak muter sampai ke balikpapan plaza. Ditunjukin lokasi gedung pemerintahan n pantai. Bapak yang lahir di bali n dah 26tahun tugas di balikpapan ini, cerita kalau pantai yang ada kebanyakan dikelola oleh pribadi. Contohnya pantai monpera yang urus angkatan Darat, pantai kemala yang kelola kepolisian. Ada juga pantai yang diurus pribadi-pribadi.  Tapi semua pantai itu bisa dikunjungi umum. Si bapak ini juga cerita ttg tugu australi yang tiap tahun pasti ada yang berkunjung ke tugu kecil itu. Si bapak akhirnya selesai keliling liat situasi (plus jd guide gw). Dia kembali ke pos jaganya. Gw pun kembali melanjutkan perjalanan menuju gua jepang, berbekal info dari polisi.

Dekat gerbang pertamina, ada tugu pertamina matilda. Tugu ini termasuk dalam cagar budaya nya kota balikpapan. Ga bisa lihat jelas karena dia di daerah yang terpagari. Sedang gw ada diluar di pinggir jalan tanjakan. Tanjakan yang menikung sebelahnya kawasan hutannya kilang pertamina sebrang jalannya hutan (entah apa namanya). Ga ada trotoar, jadi jalan di rumput, tapi asli enak udara nya pagi ini. Beberapa bunyi burung terdengar, sesekali ada kendaraan lewat, suaranya gantiin suara burung (masih jam 6kurang). Jalan yang dimasukin ini (jl yos sudarso) termasuk kawasan objek vital negara tapi bisa dilalui umum (jalan umum maksudnya). Kata pak polisi hanya di balikpapan aja yang kaya gini. Daerah lain yang ada kilang atau sebangsanya, ga bisa dilalui umum. He3 kebayang kalo disabotase. Jalan terus sampai ketemu rumah di pinggir hutan. Ada satpam, nanya gua jepang, dia ga tau, katanya dia orang baru di kota ini. Jalan lagi dikit, eh ada bapak naik motor yang tawarin tumpangan. Logatnya bukan dari makassar atau jawa. Entah dari mana. Dia kerja disalah satu perusahaan minyak juga (tapi jadi buruh paling kecil katanya). Bapak ini pakai sepatu boot n wearpack. Bapak ini ga tau juga gua jepang, jd diturunin deh di gerbang kilang minyak pertamina yang pintu ke 2. Dari sini tanya satpam pertamina, dan ternyata katanya sudha kelewatan. Terlewat 3 jalan. Hmm balik lagi deh. Dijalan tanya ma 2 orang, satu diantaranya jawab ga tau karena dia orang baru. Untungnya yang satu tau n kasih petunjuk. Selama backtrack lihat orang2 berpakaian wearpack, boot dan helm. Kebanyakan naik motor. Ada seorang ibu juga yang jual nasi di bungkus gitu (sarapan nasi kuning kali yah), dagangannya di taro diatas motor. Ga ada trotoar, tapi ada selokan yang alasnya pasir berwarna putih. Ada petugas yang sudah nyapu selokan itu.

Sampai di taman segitiga, jalan dumai, tanya sama satpam di gerbang dia ga tau. Dia telpon temannya (yang tau) dan dapatlah petunjuk. Ga jauh dari pertigaan yang terlihat dari depan. Udaranya enak banget, banyak pohon (seperti hutan). Serunya bisa keluarin asap dari mulut. Sampai pertigaan jalan menuju gunung balikpapan n gunung dubbs (kata bapaknya ada pos jaga angkatan diatas tanya aja kalo bingung). Yang ada ga nemu pos, tapi rumah orang. Ya udah tanya ma yang punya rumah. Dikasih tau kalau ada disisi jalan. turun. Dan ditemukanlah. Gua yang atasnya banyak pohon. Memang ditutup. Kelihatan masih sangat baru betonnya. Ada yang bilang, gua ditutup karena takut amblas di atasnya, ada juga yang bilang, kalau jadi tempat main ga benernya beberapa anak muda. Yang jelas gua itu tertutup. Walau letaknnya bener-bener dipinggir jalan, tapi kalau ga diperhatikan jelas, ga akan terlihat.

Puas melihat sebentar, balik arah menuju jalan utama. Lihat pohon yang isinya beringin pencekik, inangnya dah tewas. Suara burung terdengar. Nemu biji bersayap yang bisa terbang. Tingginya sekitar satu jengkal tangan gw, dia punya 4 sayap. Keluar gerbang dapat pemandangan langit. Ada pelangi diatas kilang minyak (ada artinya ga yah? He3). Dari depan gerbang naik teksi (angkot) warna biru tua (karena yang ada hanya itu). Duduk di muka dan bilang kalau mau ke jalan soekarno hatta. Si supir yang terlihat muda ngangguk aja. Teksi nya Cuma bisa muat orang 6 dibelakang. 5 menghadap depan, 1 samping. Teksinya ada musiknya, tapi bagian lain selain tape n setir, ga ada yang lain. Kosong melompong. Penumpangnya ga penuh Cuma 2 perempuan yang bilang “stop pir” pas turun. Keluar dari jalan yos sudarso, masuk jalan suprapto. Kiri kanan mulai telihat ruko berbagai jenis dagangan dan ada juga hotel. Lewat hipermarket giant yang kecil keliatannya. Ada pula pasar yang terlihat sepi (siang gw baru tau kalau itu pasar souvenir kebun sayur). Di papan-papan nama toko tertulis “kebun sayur”. Loh kok ga di jalan soekarno hatta. Ya sudahlah turun. Turun di depan kantor perwakilan tentara malaysia. He3 baru tau gw ada tempat kaya gitu. Sebelahnya ada museum kodim (walah yang ini juga baru tau, ga ada di peta buta bin aneh yang gw temuin di net, n si peta jadi dasar gw berkeliling).

Ya sudahlah masuk saja ke museum yang terbuka pintunya. Berkali-kali manggil orang di museum tapi ga ada jawaban. Akhirnya di jawab. Kata bapak penjaganya museum bukanya seperti buka kantor. Jam 8-16 wita (balikpapan masih waktu bagian tengah jamnya). Apa yang ada di dalamnya? Ada plakat, baju PDH PDL kesatuan, alat musik jadul (yang dipakai korps musik), alat komunikasi, senjata dan poto-poto, (dan gw lupa apalagi). Museum ini kecil tapi sarat info sebenernya. Ohya dari si bapak petugas, dapat info kalau ada gunung meriam jepang di atas. Jalan masuknya sebelah kantor perwakilan malaysia. Hayuk kesana... masuk ke jalan sultan hasanuddin. Jalan kecil yang menanjak, tapi ramai kendaraan. Dari sini bisa lihat kalau rumah-rumah sekitar kebanyakan pakai seng sebagai atap. Nanya-nanya dan akhirnya ketemu juga si meriam jepang bercat hijau. Ini termasuk cagar budaya juga. Dia ada di lapangan, sampingnya reservoir, dan dipagari. Jalan turun 10menit ke jalan suprapto lagi. Sudah sekitar jam 8 wita. Waktunya wisata kuliner. Ada pedagang nasi kuning, kue dan soto banjar di jalan hasanudin yang kecil ini. Ada juga gerobak mie goreng bertuliskan 8000 (kayanya harga mie 8000, tapi jualannya malam kali yah). Milih warung kaki lima pinggir jalan yang jual pecel ayam, gado-gado, sup singkong dan soto banjar. Milih soto banjar. Pertama dikasih kecap, sama sambel n air putih (yang gw pesen). Lalu dikasih si semangkok soto dengan lontong di dalamnya, terakhir ada mangkok isinya jeruk. Jeruk yang dipakai bukan jeruk nipis. Jeruk peres yang kecil (dulu gw pernah beli jeruk ini di dekat ragunan). Iseng tanya sama suaminya si ibu warung, katanya khasnya ya pake jeruk itu, airnya lebih banyak. He3 ga se asem jeruk nipis sih. Okeh selese makan, bayar 8k.

Tetp cari jalan soekarno hatta. Tanya ma orang ga tau. Yah mungkin orang disini lebih kenal nama daerah, kalau nama jalan ga terlalu hapal. Kalau sebut daerah kebun sayur, gunung sari, gunung malang, nah mereka baru engeh. Menurut si peta buta, di jalan soekarno hatta ada pasar kebun sayur n perkiraan 0km nya balikpapan. makanya gw cari tuh jalan. Ga ada yang tau. Ya sudahlah waktunya menelusuri jalan dengan kaki, kali aja nemu. Nanya ma orang tentang wana wisata km10 aja banyak yang ga tau. Selama jalan, bisa dibilang bersih kotanya. Tempat sampah ga terlihat tumpukan sampah yang banyak. Ditempat sampah ada tulisan harus buang sampah sesuai jadwal. Mungkin warganya tertib jadi ga terlihat sampah. Ada beberapa batu dengan angka dan tulisan bpn. Tapi kecil n jaraknya dekat. Pasti bukan itu. Sampai di pom bensin. Pertigaan jalan suprapto, yos sudarso, dan ahmad yani. Di pertigaan ada tugu pertamina. Tugunya ada di jalan ahmad yani sih. Disamping jalan ada trotoar ada deratan pohon yang dipagar pendek yang sampingnya sungai. Cukup teduh. Iseng nanya petugas kebersihan ttg wanawisata, si ibu ga tau, dia orang baru. Jalan terus sampai di ramayana Rapak. Katanya ini pusat belanja pertama modern di Balikpapan. kecil kelihatannya. Disini juga ada pasar Rapak. Ada pos polisi, waktunya bertanya lagi. Yup dia tau tentang rute wanawisata km10. Serunya pas tanya 0km, dia jawab ada disini, ternyata ga jauh dari pos polisi itu. Cuma 2 langkah dari pintu pos polisi. Yah disinilah 0km, dan gw baru baca disini dimulai jalan soekarno hatta. Satu misi selesai.

Selanjutnya naik teksi biru muda ke terminal batu ampar, ongkosnya 3k. Dari terminal batu ampar naik teksi coklat muda (krem) ke km 10. Perjalanan teksi sekitar 15menit ongkos 3k. Jalan soekarno hatta ga terlalu besar tapi ini adalah jalur untuk ke samarinda. Jadi ya cukup rame, plus ada truk n bus. Dipinggir jalan ada ruko yang punya PO bis ke luar daerah balikpapan.

Turun, sampai di gerbang jalan wana wisata km10. ga ada tulisan ini kawasan wisata atau apapun. Jalan masuk 10menit, ketemu portal (yang ada tulisan harus beli tiket). Tapi di dekat portal ga ada pos dan ga ada petugas. Ya sudah lanjut jalan masuk. Terasa seperti hutannya inhutani, yang ada damar, pinus dan sebangsanyanya. Ada pos disini dan ada seperti aula dengan tulisan “wana wisata inhutani”. Telihat ga terurus dan yang pasti tak ada tanda-tanda manusia terlihat. Ada peta yang tunjukin denah area. Ada kandang monyet ekor panjang juga, dan ada seikit permainan anak dan gazebo.

Selesai lihat, jalan lagi menuju jalan utama. Tujuan selanjutnya ke wana wisata km23. Sudah jam 11 siang. Naik teksi yang rutenya sama (karena ga ada angkutan lain). Perjalanan sekitar 20menit kurang n bayar ongkos 4k. Terlihat keren plang infonya. Kawasan Pusat pendidikan Lingkungan. Kurang lebih, 1,5km jarak ke lokasi. Di jalan ini, ada warung yang jual minuman dan makanan ringan. Harganya standar seperti warung-warung terpencil (he3 berlebihan nih kata2nya). Tapi tiap barang sudah ada label harganya.

Ada orang baik lagi kasih tumpangan naik motor ke dalam. Seorang bapak yang kerjanya jadi penyuluh pertanian, orang yogya yang dah kerja disini 26tahun.

Sampai di lokasi... walah jadi inget satu tempat di pulau jawa. Ada petugasnya, menurut info ini baru berdiri 2005, dikelola pemda. Disini ada enklosure beruang madu yang luasnya sekitar 1,76ha, dan diisi 5 beruang. Gw jadi inget PPS Cikananga, Schmutzer dan SM Muara Angke. Ada tangga dan jalan jalur dari kayu. Ada info larangan, ada info binatang dan tumbuhan lain yang ada dalam enklosure. Kandang terbuka yang alami yang dipagari dan ada listriknya.

Selesai keliling enklosure, ke gazebo beruang. Ini tepat semi tertutup dengan tanaman menjalar. Konsepnya kaya pameran yang interaktif tentang info beruang di seluruh dunia. Seru... Jadi inget konsep edukasi kebun binatang yang ada di luar negeri. Lalu di area kawasan juga ada “rumah panjang” dari kayu. Ada pemilahan sampah, dan ada pengomposan. Ada rumah kucing, untuk adopsi kucing. Jadi inget JAAN. Taman yang rapih dan bagus, tapi kok banyak akasia yah? Tempat ini buka tiap hari dari jam 8-17wita dan gratis masuknya.

Selesai kembali ke jalan utama. Ohya di dekat pusat lingkungan ada kantor pengelola DAS Manggar dan penanggulangan bahaya kebakaran hutan. Ada juga kebun salak. Ada tanah dijual (seperti model century itu).  Untung cuaca berawan jadi ga terlalu panas untuk jalan ke depan. Lagi-lagi ada orang baik, bapak bermotor kasih tumpangan ke depan. Dia dari jawa timur. Sudah 13 tahun di balikpapan n jadi tengkulak. He3 baru kali ini ketemu tengkulak. Sampai di jalan agak lama nunggu teksi. Kayanya jarang. Dapat dan naik. Ga penuh juga. Ada yang menarik dari teksi. Semua teksi yang gw naikin semua punya seperti ember kecil untuk taro tempat uangnya. Ada yang punya musik ada yang ga. Nah si teksi yang gw naiki ke batu   ampar ini, orang jawa. Ketauan gara-gara dia ngobrol sama temannya. Di jalan ini ada beberapa sekolah. Sudah jam 12.30an. pulang sekolah. Anak sekolah ada yang mencoba nebeng kendaraan. Sepertinya agak sulit diangkut sama teksi. Ada anak sekolah SD yang mau naik. Setelah teksi berenti, gerombolan anak SD tanya, “Kilo 15 om?”. Si supir ngangguk. Hmm mungkin ga semua teksi akan angkut anak sekolah. Dari si supir dapat info, kalau angkot jurusan batu ampar-km24 ini, Cuma operasi sampai jam 7.30mlm (dari km24). Tapi tergantung supir juga. Kebanyakan supir angkotnya tinggal di batu ampar.

Selama jalan ada gerbang dengan tulisan waduk manggar dan playground bumi hijau. Hmm entah apa isinya. Ohya ada juga deretan pedagang ‘salak pondoh asli’. Ga hanya salak yang dijual, ada juga nangka, rambutan dan durian, tapi 90% salak.

Sampai batu ampar (dengan ongkos 5k), naik angkot biru muda ke jalan sudirman. Yup bener kata orang, angkot disini bisa direques. Ada 4 penumpang yang minta diantar ke jalan yang dia mau, yang tentunya agak deket dengan trayek. Yang ada muter2 lah gw. Tapi gw ga diturunin di depan kantor pos, dan bayarnya 5k (weleh, padahal gw kan masih di jalur yang bener, n korban penumpang lain). Ya sudahlah sampai jalan sudirman dan jalan ke arah kantor pos. Ohya lewat daerah gunung sari ilir, di daerah ini ada beberapa toko oleh2 makanan seperti amplang (krupuk ikan dari samarinda).

Kantor pos di jalan sudirman, adalah kantor pos besar di balikpapan. Disini cari postcard, ga ada. Kata petugas cari di gramedia. Kalau mau kirim pos aja bisa ditunggu sampai jam 6sore. Itu jam operasional mereka berakhir. Ya baik kita ke gramedia yang ada di Balikpapan Plaza. Di jalan sudirman ga semua tempat bisa disebrangi. Ada beberapa lokais zebra cross, dan ada tulisan, kalau nyebrang di situ di lindungi undang2. Sebelum ke BP , ke masjid At Taqwa dulu. Istirahat n rasain air dulu. Masjid yang terlihat cukup megah dan besar. Disini ada jajanan anak2, pake sepeda. Namanya salome. Ya wess, cobain. Kaya baso ikan yang dijual di tukang otak2 di jakarta. Pake saus kacang dan sambel (yang tenyata pedes abis). 7 butir kecil 1000perak. Si penjual ini ga hanya jugal saloem, tapi juga jual es. Seperti es sirup gitu. Gw sebenernya dah incar si salome ini. Karena pas jalan, kok banyak pedagangnya apalagi di sekitar sekolah. Penasaran makanan apa.

Jalan ke BP. Sampai BP, jam 3 sore, terlihat sepi plazanya. Ada starbuck yang mo buka disini. Hmmm ukuran plazanya sedikit lebih kecil dari Mall Ratu Indah di Makassar. Kalau ga salah 3 lantai. Ada gramedia (yang ukurannya hampir sama seperti di MARI). Ternyata ga ada postcard. Yo wess. Balik lagi ke kentor pos. Tapi kali ini singgah dulu di ruko bandar. Model ruko pinggir pantai seperti yang gw pernah liat di menado. Di pinggir laut ada kaya cafe-cafe makan atas laut. Ga jauh dari sana ada pasar Klandasan. Karena dah sore ya cenderung sepi. Pasar yang teratur. Ada bagian perlengkapan masak (panci dan saudaranya). Ada bagian buah (yang katanya semua buah diimpor dari luar daerah balikpapan, termasuk dari sulawesi). Dan ada bagian lain. Penjual makanan cukup tersebar. Yang menarik adalah dipinggir laut pasar ini ada deretan warung. Yang dijual coto, pecel, baso dan mie. He3 jadi inget makanan umum terlihat di makassar.

Katanya di balikpapan ga banyak pasar. Yang ada hanya pasar besar aja, seperti di rapak dan klandasan. Dari mana orang dapat buah dan sayur, dan teman makan? Ya beli di tukang sayur yang lewat, yang gw liat mereka pake motor jualannya. Hmm kalo mo ke pasar jauh juga yah. Balik ke kantor pos, beli kartu pos tanpa gambar dan kirim. Untung dapat perangko yang belum pernah gw dapat.

Samping kantor pos ada tulisan kawasan kuliner balikpapan. makanannya kaya di warung berjejer gitu. Makanan nya yah seperti di jawa dah, ada juga coto, ada juga masakan padang. Belok kiri dikit yang ada deretan sari laut semua.  

Lanjut lagi ya menjajahi jalan sudirman. Ke monpera. Monumen perjuangan rakyat. Disebrangnya ada markasnya kesatuan AD. Ada patung Sudirman yang sama seperti di jalan sudirman jakarta. Hanya warnanya lebih coklat dan sedikit lebih kecil ukurannya. Di Monpera juga ada pantai berpasir putih krem dan halus. Ada tulisan tiket masuk dan parkir. Tapi pas mau masuk, ga usah bayar tiket orang. Ya sudah, ga harus keluar 500 perak. Kalau roda 2 dan 4 ga tau deh berapa parkirnya tapi ga lebih dari 3k. Ga jauh dari sana ada pantai Kemala. Ada beberapa cafe disini. Tiket masuk orangnya 1k (kalo ga salah, soalnya di gratisin masuk ma petugas). Parkir pun ga lebih dari 3k. Sama pantai pasir putih krem halus. Ga terlalu ramai, hanya ada 2 keluarag yang main di pasir. Mungkin karena hari kerja. Kalau mau buang air kecil 1k, mandi abis berenang 3k. Lanjut ke pelabuhan. Di lapangan pertamina sore ini rame trnyata. Banyak yang olah raga. Jogging, main bola dan sebangsanya. He3 ada pedagang salome lagi, tapi naik motor yang gw liat. Ohya di jalan sudirman ada jalur sepeda, dengan lampunya. Ada beberapa yang bersepeda, tapi gw ga liat sepeda fixie selama disana. Dipinggir lapangan ada ibu2, yang jual pecel. Pake daun pisang makannya. Kaya di Jawa. Penjualnya ibu yang sudah berumur lebih dari50an. Bawa kaya keranjang bakul besar untuk bahan makanannya. Orang-orang makan sembarang dimanapun mereka mau. Tapi gw ga liat mereka buang sampah sembarang. Karena ga ada bekas daunnya. Mungkin diambil ma penjual, ntahlah.

Sebelum pelabuhan ada pantai banua (katanya orang sebutnya pantai melawai). Disini pedagang siap-siap cari nafkah. Ada yang lesehan dan ada kursi. Ada baso, mie, pecel, batagor, mpek-mpek, pisang gapit, sate, dan lainnya. Makanan umum, ga ada yang khas (menurut gw). Daerah ini terkenal jadi tempat nongkrong anak muda sore-malam. Jalan ke pelabuhan (ceritanya cek travel yang masih buka, pesen tiket kapal ke lagi). Travel agennya dah tutup yang ada di pelabuhan. Ada yang kecil tapi ga minat. Warung-warung pun mulai tutup. Cuma beberapa warung penjual kaos bertulis kaltim n souvenir yang masih buka. Di dekat pelabuhan ada makam kramat pulau tukung. Tempat kecil. Katanya beliau yang dimakam ini, salah satu keluarga dari Kerajaan Kutai. Di sebrang pelabuhan juga ada tulisan Hutan Kota Gunung Kemendur. Memang hijau bukit ini kaya hutan. Menjelang jam 5, pinggir laut dekat pelabuhan, trotoranya mulai diisi pedagang minuman (sebangsa kopi, es,dll). Wess ga bisa duduk lagi dengan tenang. Di pantai melawai, nyoba pisang gapit seharga 10k.  

Lapangan yang rame orang olahraga, sepi. Yup sudah mulai gelap. Menjelang malam naik angkot biru tua ke terminal BP (balikpapan permai). Hujan rintik2. Posisi duduk dibelakang jadi ga banyak yang bisa dilihat. Yang jelas masih jalan terus nih angkot di jalan sudirman. Sampai di terminal BP, ternyata mati lampu disana. Cari angkot ke arah Batakan. Naik angkot hijau tua. He3 mau ketempat kenalan baru yang kasih tumpangan untuk istirahat malam ini.

Namanya Yani, dulu kuliah di makassar. Blogger nya AM. Dapat kontak nya dari Daeng Ipul. Kok bisa Daeng ipul tau? Karena Khi nanya. Kok bisa khi tau? Karena gw tanya.

Jalanan ke arah batakan cenderung gelap. Mati lampu. Posisi duduk dibelakang supir lagi. Jadi ga bagus lihatnya. Yang jelas angkot ini lewatin beberapa hotel keren besar dan mewah, yang berbintang tentunya. Ada juga kaya mall yang keren dan ada Score disana. Lewatin juga bandara sepinggan. Total lama sampai turun (dari lapangan – rumah) sekitar 40menit. Mati lampu juga disini.

Istirahat dan sedikit mengobrol. Orang tuanya Kak Yani, sudah lama tinggal di balipapan. Lebih dari 25tahun. Asalnya dari sulawesi selatan. Sampai sekarang masih suka pulang kampung.

Pagi.....

Jam 7 berangkat dari rumah Kak Yani. Jalanan ramai. Serunya adalah ada kabut. Hmm masih segar udaranya. Walau daerah ini banyak kantor dan rumah, dan komplek perumahan juga.

Akhirnya keliatan apa yang ga terlihat semalam. Lewati bandara sepinggan yang yang ternyata keliatan kecil, lewat juga taman makam pahlawan. Ada perumahan, banyak hotel mewah, dan mall (yang ada score! nya). Jalanan yang cukup luas dengan pembatas di tengahnya yang diisi tanaman hias yang sangat terawat. Sekitar jam 7 memang terlihat kehidupan, anak yang berangkat sekolah, pekerja dengan wearpack dan sepatu boot naik motor, pak polisi yang atur jalan. wah keliatan ramai.

Setelah naik angkot hijau tua ke terminal balikpapan permai (3k), naik angkot biru tua (3k) ke pelabuhan. Duduk di depan lagi. Lihat ember berisi uang lagi. Angkotnya yang bawa orang makassar. Baru 3 bulan coba peruntungan di balikpapan. datang ke kota ini karena diajak teman. He3 angkotnya ga ada musik, yah mungkin yang punya angkot ga cukup dana kali yah.

Ga sampai 1 jam sudah ada di pelabuhan. Di luar sudah banyak yang menunggu kapal. Banyak yang tidur di sini sepertinya. Pedagang pisang goreng, buras, kue-kue, nasi kuning, nasi putih, sudah ada disana. Termasuk pedagang tikar. Kapal yang ditunggu adalah kapal Umsini. Ternyata kapal ini ga jadi berangkat jam 9. rencananya baru sandar jam 12 siang. Wedeh. Di pelabuhan, calon penumpang punya tontonan (yang mungkin membosankan). Ada kapal peti kemas yang lagi muat barang. Lebih dari 20 peti kemas disusun dengan bantuan alat berat dan tali super kuatnya. Di ruang anjungan pengantar (yang ada di lantai dua) orang melihat tontonan itu. Ada juga yang duduk disana. Disini ada banyak bangku untuk menunggu di anjungan pengantar jadi lebih nyaman. Walau suasana ga cukup terang dan kusam, tapi anjungan ini cukup bersih. Ada beberapa bak sampah. Ada toilet juga. Ada musholla yang terlihat di kunci. Ada pedagang yang ngider juga cari pembeli. Pedagang pakaian dalam pria, buku, emas, jam, dan makanan. Sedikit ngobrol ma pedagang emas (imitasi). Dia dari nusa tenggara (lupa tepatnya dimananya) sudah tiga bulan disini.

Bosan menunggu, ya sudah mencoba pergi ke satu tempat. Kata kak yani ada tempat seru di Sekupa (jalan masuknya depan perwakilan malaysia). Sebelum kesana ke komplek pertamina lagi. Jalan dari pelabuhan sekitar 30menit. Sampai ke batas komplek (lewat lapangan). Ada yang berbaik hati yang menawarkan tumpangan sampai ke atas (jl. Sumba). Kali ini pedagang sayur (yang mau ambil tempat dagangnya), orang jawa dan sudah 10 tahun disini. Sampai di atas, kembali lihat pemandangan kota balikpapan. tapi kali ini lebih terang dibandingkan kemarin. Udara masih enak terasa. Kayanya sekitar komplek pertamina semuanya nama daerah ya. Selesai lihat, turun dan jalan menuju gereja yang terlihat dekat komplek pertamina. Atap gerejanya dari sirap. Tapi sepertinya bukan termasuk gereja tua.

Didekatnya ada pedagang baso. Seorang ibu yang sudah tinggal 30 tahun. Dia dari jawa timur. Sudah betah disini katanya. Suaminya (alamarhum) dari jawa timur juga. Anaknya ada dua, yang satu masih tinggal dengan dia. Tentang baso... he3 basonya pakai mie kuning putih yang normal, pakai tahu. Tanpa jeruk nipis. seperti baso yang umum gw kenal di tempat asal. Kata ibu ini memang ga banyak pasar. Tapi adalah pedagang sayur keliling yang bantu orang dapat sayur dan teman2 makan lainnya. Baso seharga 7k dengan air minum 0.5k. selesai lanjutlah ke Sekupa.

Naik angkot biru tua, bilang mau diturunin di kebun sayur. He3 lupa kalau seharsnya minta turun di perwakilan. Angkot berjalan dan ternyata ada penutupan jalan. Jadinya lewat pasar pandan sari. Pasar yang cukup besar. ada 3 tingkat mungkin. Kira-kira jam 10.30 sampai di pasar. Dipinggir jalan masih ada pedagang sayur. Pedagang ayam juga masih terlihat. Tentunya ada pedagang makanan seperti baso, dawet, dan kue dengan gerobaknya masing-masing.

Karena minta turun di kebun  sayur ya, diturunin disana. Di depan giant (yang mini). Jalan dilanjutkan sampai ke jalan Sekupa. Tapi lewat dalam, ga lewat jalan besarnya. Disini nemu warung kopi. Yup tulisannya warung kopi. Amat sangat sedrhana sekali. Cuma kursi panjang dengan atap seng. Tapi baru lihat selama jalan disini ada warung kopi. Sampai di jalan sekupa. Lantainya dari kayu. Hmm 10meteran dari jalan besar keliatan jalan di kiri  kanan dari kayu. Apa disini sudah ada diatas laut?  ternyata belum, sekitar 200meter baru ketemu laut. Ada gang di jalan ini yang terlihat hijau. Ada gapura dan kiri kanan gangnya ada yang tanam tanaman di pot. Terlihat hijau. Apalagi lantainya gang itu pakai kayu. Seger keliatannya. Sampai di ujung jalan, ada laut. Terlihatlah disebelah kiri rumah kayu yang ada diatas laut. Banyak sekali, mungkin lebih dari 100rumah kali yah. Ada jalan yang masih bisa dilewati 3 motor. Tapi mobil serpertinya ga bisa masuk. Ada beberapa tempat yang seperti lapangan mini. Entah jadi tempat kumpul atau tempat jemur ikan. Tapi tempat ini sungguh teratur. Walau ada sedikit2 sampah di bawahnya. Jalan disebelah kanan ada jalan kayu dan ada jalan beton (seperti jembatan modelnya). Pinggirnya ada lumpur yang sedang di tanami bakau. Disini salah satu tempat rehabilitasi mangrove (CSR nya pertamina). Ga jauh dari sana ada hal yang buat gw kagum. Ada seperti tenda-tenda tempat makan dan tempat orang jual makanan (masih diatas laut). Di tempat itu juga ada seperti aula terbuka tempat berkumpul warga. Ada pula pot-pot besar berisi tanaman hias yang terawat. Kurang lebih ada sepanjang 100meteran. Hmmm ternyata ini juga salah satu CSR pertamina untuk warga pesisir Margasari. Ada papan perjanjian antara warga dengan pertamina tentang pengelolaan tempat keren itu. Jadi mau tau kalau sore seramai apa? Apa pedagangnya bener2 berfungsi? Ada bagian juga yang tengahnya mangrove yang agak muda, tapi pinggirnya tenda-tenda juga. Mantap.

Selesai kagum dengan sekupa, lanjut jalan via pasar Pandansari, lewat IPAL margasari. Di pasar masih ada penjual bahan-bahan segar, walau ga seramai pagi mungkin yah. Belok kiri lewat jalur angkot (berlawanan arah dengan angkot). Di ujung ketemu pedagang kelapa muda pakai gerobak. Beli es kelapanya. Si bapak yang asalnya dari palu ini kasih jeruk nipis ke dalam gelas. Si jeruk sedikit di tekan agar airnya keluar. Kasih air kelapa muda, dan silahkan pilih gula merah atau putih. Yang ada di pikiran adalah, apakah di palu es kelapanya juga pakai jeruk nipis? Si bapak ini sudah 6 bulan di balikpapan coba peruntungan juga. Di gerobak tertulis 4k, tapi gw disuruh bayar 3k aja. He3... terimakasih. Jalan menuju jalan besar. Di jalan ini ada tukang cukur Madura. Ga sampai 5 menit sampai di jalan besar. Terlihat pertigaan dan pom bensin. Jalan sampai pertigaan (yang ada tugu kilang minyak pertamina), ternyata ada tugu juga. Termasuk cagar budaya. Tugu demonstrasi. Ada tiang bendera dengan benderanya dan ada semacam tugu berisi nama-nama yang pernah ikut demo. Luas tugu ini ga sampai 9m persegi. Mungkin ukurannya sekitar 2x2m. Nah dekat si tugu ada bordernya kilang minyak sampingnya ada kaya kebun sawit (yang ada tulisan “jual perahu”). Dari tugu nyebrang dan naik angkot biru lagi ke pelabuhan.

Menunggu kapal Umsini datang. Makin ramai lah diluar pelabuhan. Pedagang warung makanan yang ada di dalam kawasan pelabuhan mulai ramai di datangi orang yang mau makan ikan atau ayam yang di goreng atau di bakar. Kapal belum datang juga. Si peti kemas sudah selesai diangkut ke atas kapal. Sekarang tinggal kerja manusia yang pasang besi untuk memperkuat antar peti. Sekitar jam 12.30 ada pengumuman kalau penumpang sudah bisa masuk ruang tunggu. Kapal peti kemas mulai meninggalkan pelabuhan. Masih ada kapal ferry yang dari saban pagi terbuka untuk diisi kendaraan berat. Penumpang mulai masuk. Petugas cek karcis. Ada lagi petugas yang robek karcis dan minta uang asuransi 10k. Hmm baru tau gw. Padahal kan sudah ada asuransi di tiket. Karena uang gw tinggal 13k, ya udah gw bilang ga ada. Si petugas pun membiarkan gw masuk. Penumpang terlihat penuh di dalam ruang tunggu. Banyaknya barang bawaan membuat tempat ini keliatan penuh. Dari kakek-nenek sampai bayi ada disini. Dari tas kecil biasa sampai kardus ukuran jumbo juga ada disini. Petugas angkat barang yang bajunya seperti baju olahraga juga berbaur dengan barang-barang penumpang.

Btw, ada penjual amplang di pelabuhan, yang paling kecil harganya 5k, yang ukuran sekitar seperempat kilo 8k. ternyata harga kerupuk ini mahal sekali yah.

Di lobby ber AC ini ada toilet (yang berbayar) dan musholla yang ga terlalu terawat. Hmmm kenapa yang berhubungan dengan angkutan laut fasilitas n fasilitas pendukungnya ga sebagus angkutan udara? Di lobby juga ada kursi, sama seperti kurs di ruang anjungan atas. Ada juga toko mini yang jual makanan dan minuman. Makanan minuman berbagai merk sudah tertata rapih, tapi kayanya sepi pembeli. Si toko ini hanya dibuka kalau ruang tunggu dah dibuka.

Mulai terdengar orang berbahasa makassar, berbaur dengan orang berlogat jawa. Kapal Umsini akan berakhir di tanjung priuk, sebelumnya dia ke surabaya dan makassar dulu. Tadinya dia jalan dari nunukan. Pembicaraannya macam-macam, ada yang bahas tentang pungutan 10k tadi, ada yang bicara makanan yang dibawa, macam-macamlah.

Si kapal terlihat dan bersandar. Penumpang bersiap2. apalagi yang punya barang banyak. Si asisten tukang angkut barang pelabuhannya sudah siap2in barang. Lebih banyak petugas angkut yang sudah diluar, menunggu pintu dibuka dan mencari nafkah dari barang-barang penumpang yang turun. Pintu kapal terbuka, tangga sudah tertempel di kapal. Dan pengangkut langsung lari berhamburan ke dalam. Penumpang pun turun beserta barang-barangnya. Pengangkut yang sudha dapat order dari penumpang yang naik, juga bersiap2, carikan tempat. Ada yang minta dibawakan tikar seharag 5k untuk nandain tempat di dalam kapal. Barulah kalau penumpang turun sudah selesai, mereka cepat-cepat naik membawa barang bawaan penumpangnya. Ternyata cukup banyak penumpang yang akan naik. Kapal membuka satu pintu samping dan tangga samping sebagai keluar msuk penumpang. Selagi penumpang naik turun, kapal pun makan minum dan buang air. Isi bahan bakar dan dan isi air tawar dan buang sampah. Semua salurannya ada di pinggir dermaga. Truk sampah pun sudah ada dan siap dilempari sampah (yang banyakan sisa kemasan makanan).  Sekitar satu jam si kapal bersandar di pelabuhan balikpapan. Setelah selesai dia pun kembali berlayar.

Sempet lihat deretan truk menunggu ditaro kontainer (petikemas) di dalam pelabuhan. Banyak kontainer yang bertumpuk, ngebuat pelabuhan ini makin terlihat sempit. Ada pula petugas (seperti akrobatik udara) yang naik di tali. Tugasnya kaitin tali ke kontainer. Hmm ada asuransi ga yah?

Kapal ini tergolong sepi, banyak tempat di kelas ekonomi yang kosong. Tapi banyak penumpang yang memilih tempat diluar dekat mushollah, di tangga dek dalam, dan disamping-samping area (yang ga sesuai peruntukannya). Sekitar 20menit setelah kapal berlayar ada pengumuman kalau ada pemeriksaan karcis. Semua pintu dikunci.

Selesai periksa baru gw cari tempat di dalam. Dapat di dek 4 belakang. Di ruangan yang tulisan kapasitasnya 342orang. Ruangnya lebih enak dibanding kapal sinabung yang pernah gw naiki. Ada tempat barang di atas kepala. Tempat tidurnya dari papan yang masih terawat (ga ada yang bolong). Terlihat ada beberapa orang yang pesan kasur (10k) di dek 3. Nah kasur ini terlihat ada bantalan diujungnya. Lebih nyaman dari yang sinabung.

Menurut cerita rekan sekapal, kapal umsini termasuk dalam 3 kapal tertua yang ada sekarang. Umurnya sekitar 25tahun. Kapal yang paling besar, yang dimiliki pelni. Di kapal ini di bagian tengah setiap dek nya terlihat nyaman. Ada sofa dengan karpet, dan tentunya tempat petugas, atau tempat informasi, atau toko makanan mini. Di dek 4 ada pantry plus tempat kran air panas (tempat ambil makan ekonomi), toko, tivi dengan saluran lokal (hanya ini tivi yang gw liat di kapal), penjual baju, sandal, boneka tas yang nempatin area penumpang. Siapa yang jualan yah? Penumpang atau petugas?  Dek 6 ada musholla, dan di dek 7 ada cafe (kaya warung kopi, teh, snack n mie instan) yang ada tivi untuk karaoke (3k kalau mau karaoke). Tuh tivi pasang karaoke terus, bebagai jenis lagu. Di kapal ini juga ada resto, terutama resto untuk penumpang kelas non ekonomi. Yah kabin kamar kelas non ekonominya lumayan banyak. ohya, pas naik kapal, beberapa petugas juga menawarkan kamar. Entah kamar yang mana. Ada juga ruang pemutaran film (petugas pasti menginfokan kalau ada pemutan film). Ada apalagi yah? Kamar mandi, seperti biasa kurang terawat, ada yang karatan, kerannya bocor, pintunya agak2 bermasalah, tapi lumayan cukup bersih di tempat yang biasa gw pakai. Tapi juga ga ada tempat gantungannya. Ya jadi pinter2nya sangkutin dimana gitu.  Info solat juga diberitahunak di kapal. di kapal letak kiblat suka berubah-ubah. Solat pun digabung. Magrib-isya, subuh, zuhur-ashar. Si kapal ini juga ga ada sinyal seperti sinabung, walo banyak stopkontak listrik. Jadi lebih banyak HP jadi denger musik.

Rekan seperjalanan gw ada salah satunya seorang ibu yang asalnya dari toli-toli, mau ke jakarta, beserta anak dan teman2nya. Dia punya kebun cengkeh. Anaknya kuliah di depok dan akan diwisuda. Makanya ibunya datang. Sudah 3 hari perjalanan. Si ibu cerita kalau adat nikah di toli-toli ga jauh beda seperti di makassar bugis. Kudu punya duit banyak untuk dikasih ke cewe. Info lainnya, dulu ada kapal laut yang ke bitung dari toli-toli sekarang sudah ga ada. Yang banyak sekarang adalah mobil (kaya panther gitu) yang ada di sana menuju ke gorontalo, manado, atau palu. Nah panther kan ada 3 bagian kursi. Yang duduk di dekat supir (di depan) harganya lebih mahal, di bandingkan tempat duduk di belakangnya. Makin ke belakang makin murah. Hmm kebayang empet2annya. Inget waktu dulu ke makassar dari bulukumba. Tapi yang ga nyangka adalah harga tiap deret beda.

Rekan seperjalanan lainnya adalah bapak yang naik dari nunukan. Dia TKI kerja di kelapa sawit malaysia. Mau ke kampung halaman di lombok. Logatnya ada melayu dan lombok (pernah dengar teman yang berbahasa bima he3). Selesai urusan di kampung halaman dia balik lagi ke malaysia. Dia turun di makassar, nunggu kapal yang ke nusa tenggara barat.

Di ruang yang gw tempati juga ada ibu dengan 2 orang anak balitanya, dan keluarganya tentunya. Si ibu ini punya 2 ayunan untuk kedua anaknya. Ayunan dari kain dengan per yang dia bawa sendiri. Setiap saat kalau gw liat si ibu ini selalu ngayun anaknya. Walaupun mengantuk ia tetap menggoyangkan ayunan kain anaknya. Kalau dia ke kamar mandi, digantiin sebentar sama anggota keluarganya. Muka ibu muda ini terlihat lelah. Si ibu dan keluarganya ini turun di makassar juga. Seperti banyak penumpang lainnya si ibu ini bawa perlengkapan makan dan makanan yang tergolong lengkap. Maklum punya anak kecil. Ada piring, gelas, susu, botol, termos, bantal, selimut, dkk. Hmmm mungkin dia bawa keranjang juga yah. Disisi lain, sempet liat juga ada keluarga yang bawa beberapa kardus. Ada kardus oleh-oleh ada kardus yang isinya bahan makanan di kapal. Kopi sachet, susu dan bubur untuk anak, biskuit, gula, teh, pop mie, dkk.

Walau sering terkana hujan dan berawan serta angin tapi kapal ini tetap kuat. Ga berasa goyangannya. Mungkin situasi laut yang ga bergelombang membuat perjalanan kapal ini lebih baik buat gw.

Seperti biasa info dan pengambilan sarapan pagi sekitar jam 7 pagi, makan siang jam 11 dan makan malam jam 5 sore. Makanannya he3... menunya sama seperti di sinabung. Nasi putih, sayur sawi rebus, dan ikan kecil yang masak (porsi dibawah yang biasanya gw), dibungkus dalam tempat styrofoam. Gitu aja, tanpa air gelas, tanpa sendok. Eits, itu untuk ekonomi yah. Beda menu untuk kelas yang lebih tinggi.

Entah ada diposisi mana di laut, pas sore, pastinya di selat makassar. Tapi mungkin dah jauh dari kalimantan. Karena ga keliatan pulau lagi. Langit bagus, ada arak-arak awan dengan latar biru cerah, cahaya mataharinya juga bagus walau banyak awan. Yang ga bagus adalah kamera gw, yang ga bisa abadikan senja itu. Dia ngambek.

Malam berganti subuh. Agak gelap, tapi kayanya ada pulau disebelah kiri kapal. Ini pulau sulawesi. Setelah pengumuman solat subuh ada pengumuman kalau bentar lagi akan sandar di pare-pare. Cepat ya rasanya. Yang mau turun di pare-pare bersiap2. hmm ada suara ayam juga pagi ini. Yup ada ayam yang terikat di dek kapal. punya penumpang (mungkin). Sepasang ayam terikat di dek 6, bersama dengan makanannya. He3 ga hanya serangga (kecoa dan semut) yang ada.

Sekitar jam 5.30pagi kapal bersandar di pare-pare. Selama satu jam. Anak muda yang ada dipelabuhan membantu dorong tangga. Ga terlihat banyak petugas angkut barang. Pedagang asongan, baru berdatangan setelah kapal sandar. Yah penjual makanan nasi, langsat, salak, pop mie, dan air minum. Itu yang banyak terlihat, bahkan naik ke ke kapal. Ga banyak juga penumpang yang turun dan naik disini. Seperti biasa kapal, makan dan minum dan buang air.

Langit berawan, ga terlihat matahari terbit. Terlebih pare-pare bagian timurnya ada gunung. Jadi makin ga terlihat.Tapi diantar gunung tersebut terlihat kabut. Lumayan buat jadi objek menarik. Sinyal sudah ada kehidupan. Beberapa penumpang ada yang turun, beli makanan atau foto-foto sebelum akhirnya mereka naik kapal, dna lanjutkan perjalanan. Sekitar jam 7 kurang 15 kapal berlayar kembali. Kapal agak memutar posisinya. Jadi keliatan jelas ada seperti lapangan didekat pantai dekat dengan pelabuhan. Entah tempat apa.

Ada pemeriksaan tiket lagi. Disebelah kiri kapal terlihat pulau sulawesi (gunung-gunungnya) selama perjalanan. Sinyal smart pun selalu hadir, walao satu batang. Sinyal provider gsm sudah hidup dengan sukses. Banyak orang yang terlihat nelpon dan berinteraksi dengan hapenya. Ternyata lama juga pare-pare makassar. Sekitar 5jam perjalanan. Di laut ketemu hujan deras lagi, lalu berawan lagi, lalu kering lagi. Mahluk laut yang sering terlihat adalah ikan terbang kecil yang loncat terbang. Ada mahluk pendatang juga yang suka terlihat (tapi jarang) yaitu sampah. Selain gunung, terlihat juga pulau-pulau kecil yang ada dikabupaten pangkep.

Setelah 5 jam berlayar dari pare-pare, terlihat kota makassar, dengan gedung-gedungnya. Biasanya 1 jam sebelum sandar sudah ada pengumuman mau sandar. Ga langsung turun. Sebelum bersandar, ada kapal kecil (pemandu) yang mendampingi kapal umsini bersandar. Ada nahkoda yang naik dari kapal kecil ini ke umsini. Dia masuk dari pintu dek 4 lambung kiri kapal. sudah ada 2 satpam yang buka pintu dan kasih tangga tali. Bersandar pun ga langsung sandar. Ada tali yang harus di kait dulu dan sebagainya. Termasuk lihat petugas angkut barang yang dorong tangga. Ada satu diatas duluan yang terlihat mengarahkan. Nah yang diatas ini yang kesempatan masuk kapal duluan. Selama menunggu tangga penumpang dibuka, denger cerita dari petugas kapal. katanya kalau di singapur pelabuhan itu bersih. Kalau kotor, sudah sandar, langsung disemprot. Si kapal umsini bisa tampung air bersih sampai 2000an ton, bahan bakar bisa 1000ton (apa terbalik yah? lupa). Jam 12 lewat 15, turun dari kapal. selesai.


Blog EntryNov 17, '11 8:15 PM
for everyone
Ternyata banyak juga yah komunitas yang ada di Makassar. Padahal pas pertama saya cari di gugel jumlahnya ga terlalu banyak. Atau memang karena dulu masih ada di sebrang pulau jadi ga terlalu perhatian. Hanya perhatian dengan yang mau diperhatiin aja. Awalnya cari komunitas sejarah yang ada di kota Makassar, via gugel, dan ga nemu. Cari-cari yang sesuai minat eh ketemulah salah satu komunitas yang bergerak dibidang sosial. Namanya KPAJ (Kelompok Pencinta Anak Jalanan). Ketemu di FB. Pas sudah di Makassar hubungi mereka dan ikutan kegiatan mereka. Kegiatan pertama yang diikutin, jalan-jalannya volunteer KPAJ ke air terjun Parangloe. Setelah itu suka datang ke sekolah ahad mereka yang diadakan di unhas. Disana juga ketemu sama adik-adik binaan KPAJ yang rata-rata anak jalanan. Sebagian dari mereka pekerjaannya meminta-minta di jalan. banyak yang putus sekolah dan tak bersekolah karena ketidakadaan biaya. Kakak-kakak di KPAJ coba membantu mereka untuk belajar membaca dan menulis, walaupun tidak seperti sekolah formal yang ada. Tak hanya itu KPAJ juga mencarikan orangtua asuh untuk adik-adik agar bisa bersekolah.

Dari seorang teman di KPAJ, dikenalkan ke komunitas lainnya. Kakak KPAJ yang satu ini punya informasi yang cukup banyak tentang kegiatan yang ada di Makassar. Lewat dia, bisa ikutan acara Tudang Sipulung (TS) dari komunitas Blogger Anging Mammiri (AM). Kegiatan kumpul-kumpul sambil berbagi info tentang suatu tema tertentu. Kegiatannya sebulan sekali biasanya di kafe igo di daerah jalan pelita. Pernah AM mengundang komunitas fotografi yang ada di Makassar, di acara TS. Waktu itu yang di undang komunitas kamera lomo dan Performa. Komunitas ini juga suka jalan-jalan. Senang bisa diperbolehkan ikut jalan-jalan di seputaran kota Makassar. Apalagi tempat tersebut belum pernah didatangi.

Melalui FB dapat info, kalau ada Goodreads Indonesia Makassar. Pada suatu sore datanglah ke rumah baca Philosopia di daerah Todupulli IX. Di kampung halaman saya bukan membernya Goodreads, tapi kalau mereka sedang ada acara di toko buku dekat rumah, paling ga disempatkan waktu untuk datang dengar diskusi bukunya. Yang datang acara gathering di todupulli sedikit, tapi.... ternyata ketemu sama teman yang ikutan AM. Kenalan juga dengan teman yang ikut komunitas Makassar Backpacker (MB). Mulai dari situ gabung di grupnya MB di FB.

MB setiap bulannya pasti ada acara jalan-jalan, keluar kota Makassar. Pernah ikut salah satu trip mereka ke pulau Dutungan di kabupaten Barru. Berangkat ke pulau itu dengan modal ongkos yang minimal. He3 difokusin untuk cari tumpangan gratis. Dapat dua truk dan dua pickup yang berbaik hati kasih tumpangan ke kami berempat. Pas bulan puasa, MB juga puny akegiatan bagi takjil di jalan. bulan puasa tahun ini lokasinya di ujung jalan Pettarani. Setelah bagi-bagi, solat terawehnya di masjid Tua Katangka. Selesai solat, lihat segerombolan sepeda tua yang lewat di depan mesjid Katangka. Saat bulan puasa MB punya kegiatan solat teraweh berpindah-pindah masjid. Jadi inget tahun lalu solat teraweh di 19 masjid berbeda di sekitar Jakarta.

Dari teman di KPAJ, dapat info juga tentang komunitas yang baru terbentuk tahun ini namanya MCAC (Makassar Coin of Change). Komunitas ini awalnya ada di Jakarta, lalu di berbagai tempat termasuk di Makassar. Mereka pernah adain gathering di foodcourt Mall Ratu Indah. Kebetulan ada disana, ada satu teman yang dikenal, ya sudah datang dan iseng ikutan numpang duduk he3. Komunitas ini mengumpulkan uang logam  yang nantinya mereka gunakan untuk menyekolahkan anak-anak yang tak mampu.

Pas ikut acara MCAC di Mall itu, lihat ada anak-anak sekitar SMP atau SMA yang main rubik. Sedikit ngobrol ma mereka, katanya mereka sering ngumpul malam minggu di foodcourt ini untuk main rubik. Ada yang bawa timer juga, ada juga yang punya rubik yang bentuknya ga biasa. He3 jadi inget rubik manianya HAAJ di kampung halaman sana.

Apalagi yah... ohya dulu pas acaranya Earth Hour di bawah flyover lihat beberapa komunitas juga, ada sepeda fixie (Mafia Riders), ada juga sepeda variasi, dan ada juga flash mob, yang nari. Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) juga ada, mereka punya basecamp di taman Segitiga. Lihat kelompok ini pertamakali di acara Cinematika yang diadain Rumah Ide dan Bakti. Ada Kelompok pencinta Anak Yatim (KCAY) yang kegiatannya sepertinya tak jauh beda dengan KPAJ.  Di Makassar ini juga ada komunitasnya Bike to Work, dan sempat nongkrong bentar di kegiatan mereka. Disana dapat kabar, ada lebih dari 134 komunitas sepeda yang ada di Makassar. Ada juga komunitas costplay Jepang, lihat mereka saat Pray for Japan. Lagi-lagi dari teman-teman di KPAJ dapat info kalau ada yang namanya Daengkops. Mereka adalah kelompok yang aktif di koprol. Dari teman KPAJ yang jadi “infowomen” dapat kabar juga, kalau di Makassar sudah ada Makassar Berkebun. Makassar Berkebun (Mbun, saya menyebutnya) menggarap sebidang lahan di daerah Tanjung Bunga.

Ha3 kok jadi panjang ketikannya yah....
Bersyukur bisa ada di kota ini dan lihat banyak kegiatan yang ada. Untuk menghubungi komunitas itu tergolong mudah, karena hampir semuanya punya facebook atau twitter. Pastinya banyak kegiatan, kelompok dan komunitas yang ada di Makassar, yang ga saya tau. He3 masih berharap ada komunitas sejarah yang ajak jalan-jalan menjelajahi bangunan tua disini.


Blog EntryNov 17, '11 8:13 PM
for everyone
Jalan somba Opu makassar terkenal sebagai pusatnya toko oleh-oleh di makassar. Konon kabarnya sudah sejak lama. Tapi ternyata disini juga banyak toko emasnya dan beberapa penjual emas kecil-kecilan. Biasanya kalau yang punya toko emas dari keturunan Tionghoa, sedangkan orang lokalnya berdagang emas dengan sangat sederhana sekali. Bermodal satu lemari kaca kecil dengan timbangan di dalamnya. Mereka biasanya berdagang di depan toko emas besar, yang ada di jalan Somba Opu.
Di jalan somba opu juga ada toko-toko lain, ada toko alat musik dan olahraga, restoran, toko kue, kelontong dan pakaian, tapi semuanya bisa dihitung dengan jari.
Jalanan disini satu arah dan sering mobil parkir di jalan kecil ini. Selama lewat jalan ini belum pernah lihat macet tapi tersendat yang sering terlihat.

Toko-toko oleh-oleh yang ada disini rata-rata menjual barang-barang yang hampir sama. Ada songkok, tenun, sutra, sarung, kopi, minyak kayu putih, gantungan kunci, kue khas Makassar dan daerah sekitarnya (bahkan ada yang khas dari Minahasa). Soal harga tak jauh berbeda satu toko dengan toko lainnya.
Bangunan toko yang digunakan rata-rata sudah terlihat baru, walaupun mereka berdagang disini sudah lebih dari 20tahunan.
Kadang suka keluar masuk beberapa toko oleh-oleh, ceritanya iseng mau beli sesuatu yang bisa jadi koleksi. Nah ada dua toko yang sering dimasuki dan satu toko yang punya sesuatu yang berbeda.

Lebih sering datang ke toko “Kerajinan”. Karena tempatnya yang agak luas jadi berasa lebih enak masuk kesana. Lokasinya ada disudut, dari luar masih terlihat kalau bangunan toko ini bukan bangunan baru. Mungkin sekitar tahun 70 atau 80an. Walaupun barangnya juga sama saja. Disini pernah ketemu satu yang unik peta Makassar versi periplus. Di toko ini ada keranjang yang dipakai untuk kumpulkan barang belanjaan sebelum masuk kasir. Tapi kita masih harus meminta barang ke petugas. Karena ada di lemari atau tempatnya. Kecuali gantungan kunci dan makanan. Jika pembeli membeli dalam jumlah besar mereka akan kasih kardus dengan gambar toko mereka. Termasuk toko yang cukup ramai di datangi. Mereka buka dari jam 8 pagi setiap hari. Pernah lewat sana jam 9 malam, dan mereka masih buka.

Toko yang lain yang sering di datangi adalah toko “Unggul”. Sebenarnya toko ini adanya di jalan Pattimura (sebrang ujung jalan Somba Opu). Sepertinya toko yang menempati ruko baru. Toko ini juga cukup luas. Disini kita bisa ambil barang yang kita mau dan taruh di keranjang. Tapi di tiap tempat ada petugas yang akan bantu. Sejauh penglihatan sepertinya toko ini cukup banyak jenis kue yang dijualnya. Ada lebih dari 12 jenis kue kering. Ada kardus dengan motif rumah torajanya jika membeli barang dalam jumlah besar. Selain itu, jika membeli diatas 100rb rupiah dapat teh kemasan kotak. Petugasnya bisa ditanya-tanya tentang barang yang mau dibeli. Sempat iseng tanya tentang bahan kue-kue yang ada disana. Si petugasnya cukup lancar cerita tentang semua kue itu.

Toko ketiga, adalah toko “Kanebo Art” letaknya di ujung jalan Somba Opu, sebrang toko Unggul. Selain tenun, sarung, songkok dan lainnya disini banyak ukiran. Tapi ada yang menarik ketika masuk sini, ada postcard. Tak semua toko punya barang ini. Gambar postcard ada lebih dari 10 jenis. Lebih banyak tentang Toraja, 2 gambar tentang Makassar, 1 Enrekang, 2 Maros. Variasi gambar lebih banyak disini dibandingkan di Kantor pos besar dan sekitarnya yang hanya sekitar 3jenis saja.

He3 itu 3 toko yang cukup menarik yang pernah di datangi di Jalan Somba Opu dan sekitarnya. Bukan promo yah...

Blog EntryOct 26, '11 10:19 PM
for everyone
Kembali menjelajah sekitar Makassar. Kali ini ke daerah Maros (lagi) dengan tempat yang berbeda. Berbekal info dari teman yang sudah ke tempat ini sebelumnya akhirnya 26 Okt 2011 jalan juga kesana. Dari bandara lama nya hasanuddin, naik angkot yang jurusan pangkep. Sekitar 1 jam kurang sampai di depan gerbang PT Bosowa. Sekitar jam 8 sampai di gerbang ini, cuaca belum panas, walaupun matahari mulai garang. Masuk ke arah Bosowa, dengan kaki tentunya. Sesekali ada angkot jurusan Maros-Bosowa yang melintas, tapi lebih baik jalan kaki saja. Sepanjang jalan ada beberapa warung yang menjual minuman, tapi ga ada makanan berat. Ya paling Cuma makanan ringan saja. Tapi di warung ini masih ada yang jual minuman dingin dengan harga yang lumayan wajar. Truk-truk yang angkut batu sering mondar-mandir disini, lumayna kasih angin dan debu. Jalan kaki sekitar 300m, melewati gardu listrik PLN dan masjid Al Ikhlas. Menurut petunjuk masuk jalan disamping PLN akan sampai di Taman Batu (tempat tujuan perjalanan ini). Tapi info dari seorg teman mengatakan perjalanan via sungai ga kalah bagusnya. Ya sudah akhirnya berjalan terus sampai bertemu jembatan sungai Pute. Dari jalan poros ke jembatan ga sampai 500mtr. Di jembatan ada beberapa perahu kecil yang berlabuh. Ada yang pakai mesin ada yang sampan kecil dengan dayungnya. Ketemu sama yang punya perahu dan tawar menawar harga. Ceritanya yang punya perahu mau antar ke taman bidadari dan ujung sungai tapi harganya 150k. Tapi ga mau diantar dan petunjuknya hanya sampai jembatan dusun ya sudah, ditawarlah harga 50k saja untuk satu perahu.

Perahunya bermesin, cukup untuk 6 orang penumpang. Pemandangan dari jembatan memberi kesan yang berbeda. Unik dan indah. Ada batu dengan bentuk yang seru, bakau dari jenis rhizopora, nipah dan beberapa tanaman pinggir sungai. Sesekali terlihat gelembung udara ikan di sungai ini, tepatnya di jembatan ini. Ada 4 burung berbeda yang ditemui, seperti saudaranya kowak, saudaranya kedidi, dan layang-layang dengan 2 jenis yang berbeda.

Perahu melaju dan pemandangan nipah dengan latar belakang batu besar mewarnai perjalanan. Tumbuhan litofit terlihat bervariasi jenisnya tapi banyak terlihat saudaranya ficus. Menurut yang punya kapal di sungai ini banyak ikan. Biasa malam atau pagi orang mancing di sungai pute dan menjual ikannya di jalan poros. Beberapa jenis burung terlihat dengan jenis yang berbeda, blekok, elang dan alap-alap pun terlihat. Suara cekakak juga terdengar.
Perjalanan sungai ini akhirnya berhenti setelah 10menit, dan sampailah di jembatan pertama dusun Rammang.

Di dekat jembatan ada warung yang menjual makanan ringannya anak-anak dan minuman ringan (tapi ga ada es nya). Sering tanya-tanya orang setempat tentang lokasi yang mau dituju, yaitu Taman Batu dan Taman Bidadari. Setelah banyak bertanya dan agak putar balik, akhirnya tujuan pertama ke Taman Bidadari. Dari jembatan menyebrang ke arah masjid kecil yang ada disebalah kanan jembatan. Masjid kecil ini terlihat jelas. Jalan kaki ke arah kiri saja, lewat rumah orang yang ditutupi nipah, lewat pamatang sawah dan tambak, dan lewat jembatan kecil sekali. Agak bingung jelasin rutnya. Tapi akhirnya ketemu rumah yang ada di atas batu. Ambil kanan terus dan ketemu batu. Hmm kirain nyasar, ternyata jalan ke taman ini ada yang ditutupi air dan lumpur setinggi mata kaki. Kalau musim kering ga akan tergenang jalannya. Ikuti jalan saja karena ada jalan setapak dari batu yang cukup jelas. Sedikit menanjak dan menurun dan bertemulah si taman tersebut. Ternyata taman itu hanya kolam mata air yang biasa jadi tempat pemandian. Tempat tersembunyi yang ukurannya sekitar 3 x 7 m. Pinggirnya batu semua dengan bentuk yang khas, dengan air yang segar dan dingin. Terlihat beberapa sampah. Menurut warga sekitar beberapa orang dari kota suka mandi-mandi kalau hari libur. Kalau hujan air disini akan meluap. Disini juga terlihat raja udang. Hmmm baru liat burung itu di sulawesi. Ada banyak kupu-kupu juga, sekitar 5 jenis kupu berbeda jenis terlihat dekat area taman bidadari.

Di dekat taman bidadari ada jalan setapak menuju gua telapak tangan. Jaraknya lebih jauh, sekitar 2km lebih dan akan lewati sawah dan batu lagi.
Setelah selesai bermain air, kembali lagi ke jalur semula. Sampai ke jembatan tempat turun perahu jaraknya sekitar 1km.

Perjalanan dilanjutkan menuju Taman Batu. Sepanjang jalan ada beberapa rumah panggung yang jaraknya lumayan jauh. Banyak tambak ikan dan bekas sawah yang kering. Banyak juga kupu dan belalang, ada pula burung puyuh, bondol, dan yang paling sering melintas adalah elang dan alap-alap. Bahkan mereka terlihat ada yang terbang rendah. Jalanan setelah jembatan cukup terarah, jadi ga perlu takut nyasar. Walau jalannya tidak bagus, dan masig dari batu dan tanah, tapi cukup besar. terlihat jarang ada rumah yang ada kabel listrik. Pasti bagus liat bintang disini. Apalagi jarang ada poon besar. makanya rasanya daerah ini begitu panas. Jalan terus ada batu-batu yang tersusun dan sedang dihancurkan. Sebuah truk siap untuk mengangkut batu-batu yang dihancurkan dengan manual dengan tenaga manusia.

Nah tidak jauh dari sana, jalan terus menuju jalan keluar akhirnya ketemu susunan batu hitam yang panjang. Itulah Taman Batu 1. karena tidak musim menanam padi, rasanya tidak terlalu bersalah untuk jalan diantara sawah yang kering ini menuju susunan batu. Beberapa batu bisa dengan mudah dipanjat, ada pula yang terlihat seperti terowongan yang memang bisa dimasuki, tapi berakhir dengan batu-batu yang terlihat tajam. Di daerah ini ada 2 Taman Batu, entah dimana Taman Batu 2, tapi mungkin ga jauh berbeda kondisinya. Mungkin bentuk batu nya yang berbeda.
Hari makin siang dan panas dan diputuskanlah untuk kembali ke Makassar. Kembali jalan keluar ke jalan poros. Kurang lebih jalan kaki sekitar 2km, sekitar 30menit dari Taman Batu 1.   

Taman Batu dan Taman Bidadari terdapat di dusun Rammang, Desa Salenrang, Kec. Bontoa, Kab. Maros.
 
Tulisan yang berhubungan dengan lokasi ini
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/10/02/menyusuri-sungai-asin-salengrang-maros/
http://wartacamel.com/2011/07/10/taman-%E2%80%98-masa-batu-tengah%E2%80%99-bertaraf-internasional/
 

Blog EntrySep 13, '11 8:04 AM
for everyone
ada yg diam. ada yg sibuk dg hp. ada yg ketuk2 tgn dg bosan. yg pasti semua berdiri antara sabar dan kesel. ohya ada jg geleng kepala. mgkn ini pemandangan tiap sore mjelang malam d halte grogol, terutama yg mau pk koridor 8. antrian sdh mengular sdg armada amat dikit. dibanding kalideres, lbk bulus pny armada scuil. gw dah 1jam lbh nunggu bis, yah posisi antrian aga salah jg mkx bgini. jd mikir knp org kerja pulangx jamaahan.antara jam 4-6? he3 jd inget aturan buruh kerja sabtu minggu. sama aturan anak skul kudu msk lbh pagi. yg jls plajaran hr ini: ga usah naik traja k bulus dr grogol. lbh bae naik 86 aja kl sore.

Blog EntrySep 9, '11 5:45 AM
for everyone
hari kelima setelah masuk libur cuti lebaran bersama, monas tetap berangin. kursi2 yang ga panas sudah dipenuhi orang2, terutama pasangan. hanya 4 layangan melayang. suara betet terdengar tanpa wujud. ternyata ada juga saudara perkutut yang warna hijau asyik sendiri cari makanan di rumput kering. beberapa orang jogging. ada kelompok keluarga dan teman yang foto berlatar monas dg gaya biasa sampe agak aneh. pintu toilet masih terbuka. ga banyak pedagang air kemasan, cuma satu yang terlihat. tukang2 foto masih sabar menunggu. sore ini ga ramai cukup tenang utk dengerin radio (sambil dgr percakapan pasangan ke+kasih di sebelah gw ha3).

Blog EntryAug 4, '11 9:14 PM
for everyone
Manado - Makassar (Bis)

Ada lebih dari 10 PO bus yang ada di terminal Malalayang. Dari lebih dari 10 bus hanya 2 PO yang langsung ke Makassar, Cahaya Bone dan Mega Mas (keduanya berhenti di terminal Daya , makassar). Bus lainnya banyak yang ke gorontalo atau Palu. Kalau sepi penumpang bisa saja bis ini akan tunda keberangkatan ke esokan harianya. Jadi cek lah bus dahulu. Bus ini tak hanya mengangkut manusia tapi juga barang-barang dalam ukuran besar, bahkan ada kardus ikan atau motor yang bisa diangkut oleh si bus ¾ ini. Tentunya tiap jenis barang punya harga angkut yang beda-beda. Akhirnya naik bus Usaha kita, tiket Manado-makassar 350k.
Bus “usaha kita” jurusan Palu berangkat pukul 11.05wita (lumayan tepat waktu). Di dalam bus ada beberapa paket besar yang tulisannya untuk seseorang di Dongggala. Paket besar diletakkan di dalam bis, di jalanan. Jadi agak harus berloncat-loncat atau menginjak si paket. Bis ini punya 2 supir dan 1 kernet. Supirnya bertugas bergantian. Penumpang di bis ini jarang ada yang mengobrol. Ada ibu dan anak perempuannya yang masih kecil, banyak bapak2, dan seorang ibu yang katany akan turun di gorontalo. Dan ada juga ayam yang masuk ke dalam bus ini, beberapa ayam hidup, dengan suara khas mereka. 

Bis pelan-pelan meninggalkan terminal. Melewati pinggir pantai. Sering lewat tebing-tebing dengan pemandangan laut disebelah kiri. Dari jalanan ini masih bisa melihat laut. Lama-lama jalanan menanjak, tapi tetap bisa lihat laut. Lewati sedikit semak dan rumah penduduk. Makin lama semakin tinggi dan pemandangan laut dari atas terlihat sangat bagus. Rata-rata semua jalan dekat dengan laut tapatnya berbatasan dengan laut. Jalanan yang kecil dan menanjak serta berkelok, kadang juga banyak belokan yang lumayan tajam.

Bis ini mau ke isi solar, tapi beberapa SPBU yang dilewati terlihat sepi, kehabisan stok solar dan bensin. Ada satu SPBU yang ada isinya yang letaknya masih agak dekat dengan kota manado tapi antrian panjang sekitar setengah kilometer. Untung saja bus yang ditumpangi punya persedian solar yang cukup. Sehingga tak perlu menunggu kiriman solar tiba.
Menjelang sore bus behenti disebuah warung makan (muslim) masih di provinsi Sulawesi Utara. Beberapa orang makansiang, termasuk supir. Tapi lebih banyak yang tidak makan. Minum teh manis harganya 3k. Selama perjalanan tak banyak warung makan, apalagi makanan khas Sulawesi Utara (seperti paniki dan teman-temannya). Saat masih berada di tempat yang ramai dan dekat dengan kota, banyak salib berwarna merah dengan tulisan “Selamat paskah”, di pinggir jalan atau di rumah penduduk. Banyak gereja dengan berbagai ukuran dan bentuk, baik yang sudah lama atau masih sedang dibangun. Saat masuk perkampungan, mulai terlihat rumah-rumah penduduk yang dominan berbahan kayu, dan beratap seng, dengan halaman yanng agak luas. Sepanjang jalanan pun terlihat banyak pohon kelapa yang tinggi-tinggi. Makanya banyak di halaman rumah penduduk ada kopra atau pun tempurung kelapa.

Sekitar jam 8 malam, bus memasuki perbatasan dengan provinsi Gorontalo. Ternyata ada pemeriksaan. Beberapa petugas memberhentikan kendaraan yang masuk termasuk angkutan umum. Petugas memeriksa surat kendaraan dan cek beberapa barang yang terlihat (tak terlalu teliti kok periksanya). Ada motor yang di angkut dalam bus, dan ditanya surat-suratnya. Di dalam bus ada yang bawa ayam, dan si ayam ini bersuara, si petugas pun bertanya surat-surat untuk bawa ayam (he3... sampai nangis yang bawa ayam, tapi akhirnya selesai juga, dengan ‘cara biasa’, dan si ayam bisa dibawa kembali oleh penumpang). Ada di kendaraan lain yang bawa minuman keras (menurut info orangnya di tangkap, tapi paling dengan cara biasa orangnya bebas, mungkin hanya mminuman yang disita).

Bus nya memang tidak penuh penumpang, jadi bisa angkut penumpang di tengah jalan, asalkan sesuai tujuan. Di daerah gorontalo pun ada orang yang tengah malam behentikan bus dan naik bus ini. Penumpang yang tidurnya sudah ditekuk-tekuk, akhirnya harus tidur duduk. Selama gelap berada di provinsi gorontalo, jadi tak terlihat pemandangannya.
Menjelang pagi sudah masuk daerah Sulawesi tengah. Masih di daerah perkampungan dekat dengan pantai. Sekitar jam 9 sampai di daerah teluk Tomini. Jalanan trans sulawesi berada persis di pinggir laut. Banyak area mangrove yang masih luas dengan kelompok-kelompok yang berbeda. Ada yang kelompoknya Rhizopora, atau pidada. Tapi sepintas masih terjaga dan luas areanya. Beberapa kali juga melewati sungai dan kebnayakan sungainya kering atau airnya lebih sedikit.

Berhenti di salah satu warung makan (muslim) di daerah Tomini. Makan dengan ikan woku, nasi, serta tumis sayur, dan kuah bihun dengan bawang goreng yang sangat terasa, seharga 20k. Kalau pakai ayam 25k (hampir semua tempat makan, minum harganya 20k). Kopi atau teh seharga 5k. Dijual juga bawang goreng dengan ukuran plastik kecil seharga 15k (daerah Palu terkenal dengan oleh-olehnya bawang goreng). Di warung pinggir jalan ada juga yang jual gula kelapa seharga 7k. Tapi gula tersebut salah satu kebutuhan bukan barang oleh-oleh. Sepanjang jalan tdak ada yang khas yang dijual. Setelah 1 jam istirahat makan akhirnya kembali jalan. Cuaca masih berawan dan sempat hujan deras. Terus jalan dan masuk ke daerah Mautong. Disini ada beberapa janur yang terpasang berjejer.

Ternyata disitu ada pure kecil atau tempta berdoa dan kasih sesajian. Ternyata ada daerah perkampungan orang bali. Tapi di daerah ini juga terlihat masjid, beberapa gereja juga masih terlihat. Di daerah pertama yang ada perkampungan bali nya ada penjual buah seperti durian, rambutan, dan lainnya yang diambil dari kebun mereka. Ada juga apel tapi itu diambil dari kota. Tidak ahanya buah, tapi juga ada bibit tanaman yang dijual.

Perjalanan dilanjutkan dan sampai di daerah Tobuli. Disini bus berhenti sebentar dan turun menunggu bus operan ke Makassar. Ada yang jual lalamang (seperti lemper dibakar tapi ayamnya ditaruh sembarang). Sekitar 10km lagi dari tempat ini ada terminal tobuli. Beberapa mobil travel berplat kuning lewat di jalan ini. Travel ini menuju beberapa tempat di daerah Sulawesi tengah. Tak sampai 30menit bus cahaya bone menuju makassar melintas dan naik lah bus itu (ga perlua bayar lagi).

Bus sangat padat penuh barang-barang. Ada karung, boks-putih yang katanya isinya ada ikan, teripang, kepiting yang tujuannya ke makassar tapi termasuk barang ekspor. Penumpang cukup ramai, tak hanya orang dewasa, ada 5 anak kecil juga di dalam bus. Aroma di dalam bus yang lebih sempit dari bus sebelumnya juga macam-macam. Selain bau amis hasil laut, ada juga baunya ayam. Maklum saja ada banyak ayam hidup yang dibawa penumpang. Situasi dalam bus benar-benar padat. Untuk keluar masuk pintu harus sedikit memanjat barang bawaan penumpang lainnya.

Bus ini meninggalkan manado sejak hari Minggu, karena tidak ada solar di SPBU, maka bus ini bermalam di Gorontalo lebih dari 10jam. Baru sampai di Tobuli hari Selasa. Penumpang seperti satu rombongan satu keluarga. Mungkin karena sudah alami kesusahan menunggu bersama-sama kali yah.
Sempat berhenti di warung makan lagi dan istirahat 1 jam. Kernet meminta KTP seluruh penumpang. Karena sebentar lagi akan memasuki daerah Poso. Warung makan yang disinggahi lagi-lagi sepi. Katanya karena solar tak ada, jadi banyak kendaraan yang tertahan, terutama bus. 

Bus sempat melewati perkampungan bali yang ternyata lebih ramai lagi dan lebih padat. Banyak janur-janur berada di pinggir jalan. Rumah bebentuk pure, ataupun gerbang yang berbentuk khas bali. Tidak terlihat masjid, tapi terlihat bebrap orang yang yang pakai sarung dan songkok di deerah ini. Terlihat juga ada gereja di dalamnya tapi gerbangnya khas bali. Di daerah ini ada yang beli minyak tanah, pakai derijen. Minyak tanah di sulsel lebih mahal 2-3kali lipat dibanding di daerah utara.

Jam 6 sore sampai di perbatasan Poso. Petugas hanya cek KTP, tapi KTP masih di tahan oleh kernet, karena masih ada pemeriksaan lagi. Dari perbatasan menuju kota Poso masih membutuhkan waktu sekitar 1jam lagi.

Kota poso termasuk kota yang ramai, warung makan orang jawa lumayan banyak beredar. Pedagang terang bulan, gorengan, somay, sari laut mudah ditemukan. Bus sempat berhenti lama di kantor perwakilan di Poso. Setelah jam 9 malam baru berangkat kembali. Keluar dari kota, melewati salah satu tempat kerusuhan yang sangat terkenal dahulu kala. Dalam keadaan gelap bus melewat  tanjakan yang kiri-kanan seperti hutan, tanpa lampu. Jalanannya kecil dan sepi, beberapa jalanan ada yang rusak dan ada yang rawan longsor. Bus-bus besar juga terlihat melewati daerah ini.

Malam-malam masih berada di daerah Sulawesi tengah. Beberapa kali kernet turun untuk kasih sesuatu ke petugas sambil bawa KTP penumpang. Menjelang subuh sampai di Sul sel. KTP dikembalikan ke penumpang. Melalu jalan poros luwuk, palopo, dan selanjutnya. Pohon kelapa masih banyak yang terlihat. Di daerah luwuk – palopo banyak informasi penunjuk aarah tempat wisata, seperti wisata agro dan sebangsanya. Sempat berhenti dideretan penjual buah yang jual langsat (20-30k per kernajang kecil), rambutan (10-15k perikat), sagu (10k per tempat), duren (10k/2buah).

Makan siang warung makan di Wajo. Di daerah wajo rata-rata rumah panggung. Melewati Sidrap yang penghasil telur dan beras. di kota juga ada bentor yang berbeda dengan bentor di makassar. Ada disamping kursi penumpangnya, bukan di depan. Melewati pare-pare juga dan jam 10 malam baru sampai di kantor perwakilan cahaya bone di jalan Andalas, makassar.

Blog EntryJul 19, '11 12:01 AM
for everyone
Episode 2
Bitung – Manado (Oto dan mikro)

Pelabuhan Bitung terlihat besar. Ada terlihat tempat kontainer yang entah akan pergi kemana, tapi punya tumpukan yang besar dan tinggi, plus banyak. Kapal Sinabung sepertinya akan isi muatan disini. Walau jam 4 pagi, tapi calo kendaraan, penjemput dan lainnya meramaikan pelabuhan. Karena tidak terbujuk dengan tawaran angkutan yang ada di dalam, akhirnya jalan sampai keluar gerbang pelabuhan. Suasana masih gelap. Masjid di depan gerbang pelabuhan Bitung baru terdengar suara mengaji. Tidak ada mikro (angkot) yang lewat. Di gerbang pelabuhan ada penjual baso (gerobak) solo (basonya dan bentuknya plus penyajian seperti di pulau jawa, tanpa jeruk nipis he3...) dengan harga10k.

Sekitar jam 5 ada mikro lewat yang menuju arah terminal. Mikro berwarna biru  dengan tulisan di lampu atas (tangkoko-pusat kota). Jalanlah mikro yang kursinya hanya 9 orang. Karena kursi penumpang menghadap depan semua (tidak menyamping). Sepanjang jalan sepi (kan masih subuh), terlihat sepintas kota ini rapih dan bersih. Beberapa usaha makanan yang bernama jawa sering terlihat.terlihat juga beberapa ruko-ruko dan kantor pemerintahan. Sekitar 20menit mikro melaju dan sampai di belokan menuju terminal (jadi mikronya ga mau masuk terminal, masih pagi jadi dia muter balik), ongkosnya 5k (seharusnya Cuma 2,5k, ceritanya si supir cari kesempatan). Ada orang juga yang dari pelabuhan harus bayar 30k untuk sampai terminal (benar-benar cari kesempatan).

Di pinggir jalan menuju terminal ada oto (mini bus seperti ukuran metromini) yang menunggu penumpang jurusan Manado. Karena masih pagi dia tunggu disini, nanti kalau sudah terang baru masuk terminal. Sekitar 1 jam kurang nunggu penumpang penuh. Lalu berangkatlah si oto menuju Manado. Di jalan udara terasa dingin dan agak berkabut tipis. Terlihat banyak rumah beratap seng serta ada juga pabrik-pabrik. Terlihat juga penjual coto, nasi campur, sari laut yang masih tutup. Beberapa truk melintas juga di jalanan yang sama. Karena kota pelabuhan, Bitung dihuni oleh berbagai suku. Kernet menarik ongkos sebesar 8k ke penumpang.  

Sekitar 45menit jalan sampailah di kota Manado. Oto berhenti di terminal Paal 2. terminal kecil yang banyak mikronya. Di terminal ini juga banyak pedagang makanan dengan warung sederhana, yang kebanyakan makanannya orang Makassar, Gorontalo dan Jawa (makanan muslim). Dari sini naik mikro yang lewat 45. Naik Mikro dengan tulisan PK-Paal 2. Mungkin karena masih pagi, kota ini terlihat masih bersih dan rapi. Banyak bangunan rumah dan toko yang dilewati. Kalau ga salah sebelum masuk jalan Sudirman sempat lihat bendi. Selama di jalan menuju 45 terlihat beberapa bangunan yang modelnya agak-agak tua (seperti jaman belanda) tapi itu tak bayak. Terlihat satu padagang makanan dipinggir jalan yang bungkus makanannya seperti lepet hanya lebih besar dan lebar (entah apa namanya). Ada satu tempat sarapan lagi yang dilihat selama di jalan ini, tapi kalau yang satu ini seperti daging yang digantung (perkiraan gw tikus yang digoreng atau sejenisnya). Hanya 2 tempat makan itu saja yang dilihat selama jalan ke 45. (jadi mikir dimana bisa beli sarapan).

Tak lebih dari 10menit, dengan ongkos 2k, sampai di 45. Sebuah bundaran kecil, dengan perapatan. Banyak orang yang menunggu angkutan disini. Disalah satu sisi juga ada batu 0km nya Manado. (ceritanya gw ga langsung cari info bis, mau sedikit keliling di dekat pusat kota). Di perempatan ini ada bank Sulut. Tak jauh dari sana ada komplek pertokoan Marina Plaza. Ada penimbunan batu kali disini, untuk penahan ombak dan perluasan daratan. Ada juag seperti tugu yang sedang dibangun. Namanya “tugu lilin”. Disini juga ada pelabuhan kecil menuju Bunaken, tapi yang sandar speedboat keren (pas mau keluar gw liat ada 1 bis travel kecil yang bawa wisatawan).
Selesai lihat sekitar Marina Plaza, kambali ke perempatan, menunggu mikro yang menuju terminal Malalayang. Mikro biru yang bertuliskan atasnya Malalayang-PK. Selain itu ada lagi tulisan gantung “pasar/45” atau “malalayang” (angkot yang gw tumpangi tulisan gantungnya malalayang). Lewati jalanan kota yang ada ruko yang teratur, beberapa bangunan tua, kantor, bank-bank, markas angkatan, dll. Jalanan lumayan lebar. Tapi ternyata nemu juga jalanan yang lebar tapi satu arah. Menurut bapak supirnya Manado mulai macet, jalanan satu arah juga tetap macet. Di Manado ga pernah ada becak dan bentor di dalam kota. Ada bendi itu pun hanya dipinggir kota yang dekat dengan perumahan, tapi jumlah tak banyak. Jika ada becak, bentor, dan bendi, ga kebayang macetnya. Ohya di Manado orang minta turun dari mikro manggilnya “muka”, bukan kiri atau depan (tapi maksudnya sama-sama berhenti).

Setelah 20menit kurang sampai di terminal Malalayang. Cek angkutan ke Makassar via darat. Malalayang adalah terminal angkutan luar kotanya Manado. Terletak di dekat pantai Malalayang. Disini banyak makanan Gorontalo, Makassar (jadi bisa ketemu ma nasi kun, nas cam, dan coto). Banyak perusahaan bis yang tujuan Palu dan Gorontalo, dan beberapa tujuan Makassar. Kebanyakan Bisnya ukuran 20seat (seukuran mikromini). Ada bisa yang panjang (lebih dari 30) tapi hanya sedikit contohnya PO Harvest tujuan Palu. Ga banyak juga bis yang pakai AC. Ada PO yang ke Makassar tapi ga berangkat hari ini baru besoknya berangkat.

(Setelah mutar-mutar cari info akhirnya memilih PO Usaha (yang tulisannya tujuan Makassar, tapi ternyata dia bukan bisa langsung Makassar). Beli tiket seharga 350k untuk tujuan Manado-Makassar. Berangkat siang jam 11wita. (rencananya ingin ke pusat kota, tapi kata penjual tiket bis, waktunya ga sempat, karena pasti macet, dari pada ketinggalan bis lebih baik berdiam diri di terminal dan sekitarnya).  
Sambil nunggu bis keliling terminal sebentar lalu ke pantai Malalayang (yang terihat seperti tanjung). Ada juga kawasan yang tidak terlihat tinggi (ada pantainya tapi Cuma sedikit sekali). Tapi ada beberapa anak yang main air disini. Dari pantai juga bisa lihat gunung yang ada di Bunaken. Di dekat pantai juga ada kantor kelurahan dan base perahu untuk rescue.

Disini ada beberapa warung makan yang jual gorengan (pisang goreng dan tahu isi) dan Tinutunan (bubur Manado). Pisang dan tahu nya dimakan dengan teman sambal (he3 kalo di makassar biasanya gorengan yang umum gw liat singkong dan pisang goreng). Tinutunan bisa dicampur dengan mie (jika suka). Harga gorengan masing-masing 1k, bubur 8k. Masih di pantai ini juga seperti ada usaha wisata air. Tapi tutup mungkin karena hari senin. Tak jauh juga dari pantai dan terminal ada warung makan yang jual mie cakalang dan es kacang khas Manado (entah rasanya seperti apa dan berapa harganya). Ada satu penginapan yang dekat sekali dengan terminal (lupa namanya) tapi tarif per kamar minimal 200k. Penginapan yang terlihat sederhana ini hanya ada 2 jenis room saja.  

Kalau mau cari oleh-oleh di sekitar terminal malalayang tidak ada yang jual souvenir atau makanan khas. Tapi ada satu ibu yang jual kacang tule (kacang kulit yang digoreng), ada juga yang jual manisan pala, bapak yang jual koran Sul-Ut (he3 koran jadi oleh2), dan jual sprei kasur. Semua bukan pedagang yang menetap. Ada seperti pedagang penetap (selain warung makan) yang jual biskuit atau air minum kemasan.

Blog EntryJul 18, '11 11:55 PM
for everyone
Episode 1
Makassar – Bitung  (Kapal laut)

Perjalanan singkat menuju Manado. Berniat mau rasain naik kapal laut, akhirnya beli tiket kapal laut Makassar-Bitung. Lihat jadwal tenyata ada kapal ke Bitung tanggal 8 Juli. Akhirnya beli tiket di kantor Pelni (jl. Sariwegading, Makassar), beli tiket tanggal 7 Juli sekitar jam 15.30wita (jam 4 sore loket pelni sudah tutup).
 
8 Juli 2011, di tiket dicantumkan kapal laut Sinabung berangkat 19.00 wita, dan penumpang harus sudah ada di pelabuhan jam 5sore. Datanglah ke pelabuhan Makassar Soekarno-Hatta, jam 5sore, ternyata Sinabung baru datang jam 4 pagi esok harinya, dan penumpang sudah tiba di pelabuhan jam 2 dini hari. Banyak penumpang yang kecewa, termasuk 2 bule Perancis yang akan pergi naik KM. Sinabung.

9 Juli 2011, jam 2 dini hari  di pelabuhan Makassar. Di luar sudah banyak orang yang terbaring, ga hanya calon penumpang Sinabung, tapi ada kapal lain yang juga menunggu. Para petugas pengangkut barang pelabuhan ada yang bantu penumpang bawa barang, ada juga yang tertidur di atas tumpukan barang bawaan penumpang yang dia bantu bawa. Ada satu set kursi kayu yang dibungkus kardus yang entah mau kemana (tapi akhirnya gw tau, tuh barang naik kapal yang sama ma gw).

Akhirnya jam 3.30 pagi, penumpang KM Sinabung, dipersilahkan masuk ruang tunggu. Sebelumnya penumpang di cek karcis, di cap tangannya dan di robek bagian karcisnya. Ruang tunggu yang ber AC lumayan luas juga, tapi penuh dengan kursi untuk menunggu. Ada toilet juga yang ga terlalu bersih dan harus bayar Rp. 1500 (kalau tak salah). Penumpang yang banyak dan barang bawaan yang sebagian juga masuk lobby plus petugas angkut membuat ruangan terlihat penuh. Belum lagi ada orang yang merokok di ruang non rokok.

Jam 4.30pagi akhirnya kapal KM Sinabung bersandar di Pelabuhan Makassar. Sekitar 30menit kemudian penumpang dari Makassar mulai mengantri untuk masuk. Sebelumnya menunggu penumpang turun dahulu. Mengantri untuk masuk kapal dan sebelumnya di robek lagi bagian tiketnya. Masuk ke kapal dan mulai mencari dek dan kabin serta nomor tempat, ternyata beginilah kelas ekonomi (tempat gw dah ditempati orang). Siapa cepat dia dapat. Banyak orang ambil posisi dimana pun, di tangga, bawah tangga, dek, lorong, dekat pintu, pokoknya dimana pun. Itupun barang bawaan mereka bisa ditaro dimanapun. Seperti sofa, lemari bisa ditemukan di lorong. Sepintas terlihat jumlah untuk kelas ekonomi jauh lebih banyak dibandingkan dengan kelas 1 atau 2. Kalau kelas 1 atau 2, bisa ambil kunci dulu dibagian info, setelah masuk kapal. Tapi kasih uang 50ribu untuk jaminan kunci, nanti kalau sudah selesai baru deh dikembalikan. Kelas 1 katanya punya kamar mandi di dalam dan ruangan AC plus tv. Harganya bisa 5kali lipat kelas ekonomi. Kelas 2, setiap kamar ada 6 tempat tidur dan kamar mandi diluar bersama dengan sesama kelas 2. katanya juga, kelas 1 dan kelas 2 juga makannya ada yang sedikit beda menunya. Tapi mereka sama-sama makan di ruang makan. (untuk sampai ruang makan mereka akan lihat orang-orang kelas ekonomi yang begitulah bentuknya). Semua kelas makannya 3kali. Kelas ekonomi juga makan 3 kali tapi harus pergi mengantri ke Pantry untuk ambil nasi yang dibungkus styrofoam dengan lauk telur tepung dadar dan sedikit saus (untuk sarapan). Makan siang / malam menunya nasi, tumis/rebus sayuran plus perkedel atau ikan rebus (beda banget dah).

Bongkar muat barang di pelabuhan Makassar ternyata lamanya. Jam 8.30pagi baru berangkat (setelah sarapan di kapal). Di pelabuhan makassar ternyata tak hanya Sinabung. Masih ada 2 kapal lainnya. Tapi sinabung yang berangkat dahulu. Berangkatlah kapal menuju pelabuhan Bau-Bau.

Selama di jalan, langit berawan lumayan sempet kena gelombang yang buat goyang-goyang  kapalnya. Penumpang bertebaran dimanapun, di dek 7, di warung paling atas, di dek masing-masing dan lain-lain. Di dek 5 ada permainan video game untuk anak-anak dan karaoke (entah berapa harganya). Di dalam kapal juga ada teater yang pasang film pada jam tertentu, htm nya 10k. Katanya kalau malam setelah jam 9 juga ada hiburan di restoran dan gratis.

Di kapal juga ada beberapa tempat makan. Harga nasi dari 10k-20k. Rata2 nasi plus ayam 15k. Banyak juga petugas beredar yang jual nasi, es teler, bubur kacang hijau, kopi dan teh. Harga teh 5k. Pop mie harganya rata2 8k. Di dekat pantry juga ada air panas yang gratis untuk penumpang ekonomi. Listrik jalan terus. Makanya ada beberapa orang yang bawa laptop (untuk nonton film atau main game), masak air panas pakai teko listrik dan ngecas hp (karena banyak colokan he3).

Di kabin ekonomi ada televisi bersama yang terhubung dengan parabola, jadi beberapa siaran luar negeri bisa ditonton bersama-sama. Di dalam juga ada kamar mandi untuk perempuan dan laki-laki (meski terlihat kurang terawat. Konon katanya kapal ini tergolong kapal tua). Tapi petugas kebersihan rajin untuk menyapu tiap ruangan ekonomi kalau masih siang. Di kapal sinabung juga ada sinyal telkomsel (tapi kadang suka lemot dan hilang. Konon kabarnya lagi, tak semua kapal punya jaringan telepon, sinabung termasuk dari yang sedikit yang sudah ada jaringan). Terdapat poliklinik yang operasi jam siang, tapi untuk darurat bisa kapan pun bertugas. Ada musholla juga yang selalu punya acara solat jamaah yang digabung. Arah kiblat pun selalu berubah sesuai dengan posisi kapal saat berlayar.
Kapal ini cukup kasih info yang baik. Pengeras suara yang berjalan bagus. Semua info waktu makan, waktu solat, kegiatan nonton film, jaga kebersihan dan keamanan sering diinfokan. Sekedar info, walau makan 3kali, tapi waktu makannya antara ajam 6pagi – 6 sore. Jadi makan malam lebih cepat. Ohya pas lihat peta kapal ada tulisan perpustakaan. Tanya petugas ternyata memang dari awal tidak difungsikan ruang tersebut.

Setiap meninggalkan pelabuhan, pasti ada pengecekan tiket. Kalau tidak ada akan ada denda (katanya banyak denda disini). Beberapa orang juga suka jual kamar dan sewa matras. Makanya banyak orang penumpang ekonomi seperti pindahan, bawa perbekalan makananan (sepert pop mie atau makanan kering), bawa tikar, bawa kasur lipat, termos, dkk. Karena perjalanan panjang dan mereka pasti butuh makan. Sedangkan bisa dibilang harga berbelanja di kapal itu lumayan menguras kantong.
Tapi di kapal bisa menemukan dan melihat berbagai macam suku yang ada di Indonesia. Kapal sinabung membawa orang dari Belawan di Sumatra sampai ke Papua. Berbagai bentuk muka ciri khas dari berbagai suku bisa terlihat disini, termasuk juga bahasanya (plus perjalanan ini juga ada bahasa inggris n perancis, maklum aja ada bulenya).  

Setelah perjalanan sekitar 12jam, akhirnya sampai di pelabuhan Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Sudah sekitar jam 9malam ketika kapal bersandar. Dari jauh terlihat pelabuhan yang sudah didatangi banyak calon penumpang dan pengantar serta pengangkut barang. Petugas menginfokan kalau di pelabuhan ini hanya sebentar. Hanya untuk naik turun penumpang lalu berangkat. Karena tak banyak barang yang diangkut disini. Lumayan ada waktu sekitar 1jam untuk turun dan menginjakkan kaki sebentar di Bau-bau, sebuah kota yang dari laut kita bisa lihat bangunan kesultanannya. Di pelabuhan Bau-bau tak seketat di Makassar, orang bisa gampang masuk. Masih di area pelabuhan ada pasar malam. Jual makanan khas atau makanan minuman lainnya. Kota yang punya patung nanas ini punya makanan khas. Namanya kasuami (biasa disebut suami), singkong yang diparut dikasih kelapa sedikit dikukus dan dibentuk kerucut. Rasanya bener-bener seperti singkong dan agak keras bentuknya, harganya 3k. Biasanya makan suami dengan ikan bakar, satu ikan yang dikasih bumbu cabe seharga 10k. Kota ini dikenal juga dengan produksi kacang mede. Harga kacang mede goreng di pasar malam ini 50k untuk 1/2kg. Ada juga yang jual buras (seperti lontong hanya dibentuk seperti kue pisang bungkusnya), durian dan rambutan. Di pelabuhan banyak ojek, terlihat beberapa angkot dan ada becak juga.
Sudah 1jam bersandar, petugas menginfokan untuk semua yang tak berkepentingan untuk turun (sebab ada juga penjual makanan yang naik kapal, selain para pengangkut barang).

Kapal pun berangkat menuju pelabuhan Banggai. Suasana kapal mulai tenang, hampir semua orang beristirahat, ada juga beberapa yang mengobrol atau melakukan kegiatan lainnya. Tapi kebanyakan tidur menunggu pagi menyapa. 
10 Juli 2011, jam 7pagi gerimis, sempat melihat pelangi di antara gerimis dan angin, entah lokasi dimana. Kamar mandi mulai penuh diisi orang yang mau mandi atau melakukan ritual pagi lainnya. Banyak yang masih terlihat nyaman dengan tidurnya walau tempat mereka tidur ga jelas. Petugas kasih info waktunya ambil makan, penumpang membawa tiket mereka untuk ditandai sudah ambil makan (tiket itu seperti nyawa he3...).

Perjalanan dari Bau-bau menuju Banggai sekitar 12-13jam perjalanan. Akhirnya sampailah di Banggai. Untuk masuk ke pelabuhan, penumpang disajikan pemandangan pulau-pulau. Kita seperti masuk pintu untuk sampai ke pelabuhan yang tergolong kecil ini. Dari jauh terlihat 2 gerombolan manusia. Disini tak sebebas seperti di Bau-bau. Tidak terlihat juga dimana ruang tunggu. Di bau-bau saja, walau ruang tunggunya sangat amat minimalis dan sederhana, masih ada. Tapi di banggai sepertinya tak ada. Ada gerombolan untuk orang masuk dan ada gerombolan penjemput disisi lain. Di dermaga hanya terlihat beberpa orang, seperti petugas, para pengangkut barang, dan sedikit sekali pedagang. Saat kapal bersandar, pengangkut barang selalu diberi kesempatan untuk masuk duluan (cari pelanggan. Dan di semua palabuhan seperti itu).

Tak lama juga kapal bersandar, tapi lumayan 10 menit menginjakkan kaki di dermaga Banggai. Di dermaga tak banyak juga yang jualan. Ada penjual sirih, penjual ikan bakar dan buras, es kelapa muda, pisang (dan gw lupa...). Beberapa penumpang ada yang cari stok makanan seadanya di pelabuhan ini. Karena pedagang sedikit, tapi pesanan banyak, maka banyak penumpang yang tak kebagian. Di dermaga juga ada beberapa anak, dan mereka minta dilempari uang dari penumpang yang ada di atas kapal. Ada tentara yang menurunkan peralatan untuk di kantornya (katanya ada pimpinan disini baru jadi bawa barang kantor via kapal). Kurang lebih 1 jam kapal bersandar di Banggai, kemudian melanjutkan lagi perjalanan ke Bitung.
Suasana kapal semakin banyak orang. Padahal sudah banyak yang turun, tapi tetap setiap lorong sepertinya dapat tambahan orang. Aktivitas di kapal pun tak ada perubahan (ngebayangin orang yang naik kapal dari Jawa atau Sumatra dengan tujuan Papua.... bosen kali yah). Berbagai suku pun bertambah di kapal ini, Jawa, Papua, Makassar, Betawi, dari Ternate dkk.

11 Juli 2011, sekitar pukul 3 dini hari petugas menginfokan 1jam lagi akan tiba di Bitung, Sulawesi Utara. Diinfokan juga untuk selalu jaga barang bawaan karena banyak terjadi tindakan kriminal. Selain itu petugas juga kasih info, klau kapal akan berangkat ke Ternate pada pukul 7. Jadi penumpang yang mau turun punya waktu 3 jam untuk transit. Sekitar jam 4 akhirnya turun di pelabuhan Bitung dan terlihat banyak sekali orang di pelabuhan yang terlihat besar.

Tips naik kapal laut (ekonomi):
-    Siapkan tikar/alas tidur, makanan, serta uang lebih jika berada di kapal.
-    Sebaiknya jika naik kapal laut minimal 2 orang, jadi jika ingin jalan-jalan/tidur ada teman yang bisa jaga barang.
-    Kenalan dengan orang yang dianggap baik, jadi bisa titip barang juga.
-    Jika mau dapat tempat di dalam kabin siap-siap untuk lari-lari cari tempat.
-    Siap-siap bawa obat antimabuk (bagi yang suka mabuk perjalanan).
-    Bawa mainan atau apapun untuk menghilangkan jenuh.

Sekilas harga di Kapal
Tiket kapal Sinabung (Makassar-Bitung) Rp. 444.000,- (sudah termasuk asuransi Rp. 5000,-)
Kisaran harga makanan di kapal Rp.10.000,- Rp. 20.000,- / porsi
Kisaran harga minuman > Rp. 5000,-
Hiburan di atas kapal > Rp. 10.000,-
Harga air 1,5liter / tikar plastik di pelabuhan Makassar Rp. 5000,-

Blog EntryJun 8, '11 11:29 PM
for everyone

Kali ini ceritanya tanpa foto ya. Karena kameranya ga dukung untuk merekam keindahan yang amat sangat super. Keindahannya apa nanti dulu. Kisahnya dimulai dari sebuah ajakan keluarga (tetangga) tempat kami bernaung. Diajak ke pesta nikah keluarga mereka di daerah Takalar, sekitar 34km dari Makassar. Naik kendaraan semi pribadi, jalan sore sekitar jam 4. Lewat Sungguminasa yang agak ramai jalannya, lalu masuk daerah Takalar yang agak tenang kendaraannya. Perjalanan kurang lebih 1,5jam untuk sampai ke kampung ini. Kampung yang letaknya kurang dari 5km dari pusat kota Takalar. Tapi aslinya kampung ini ada di wilayah Gowa. Hanya untuk sampai kesini masukknya dari Takalar. Daerah nya sepi, ga ada penerangan jalan, jalan sempit, tapi beraspal.   Sampai disana udara dingin terasa. Kami menginap di sebuah rumah panggung berlantai kayu, berdinding sebagian kayu dan seng dan beratap seng. Rumah ini punya dapur yang ada dibelakang dan letakknya dibawah. Lantainya masih tanah. Walau begitu enak rasanya. Sekeliling rumah masih banyak pohon, terutama pohon mangga. Disamping rumah ini ada sawah yang agak kering. Sepertinya tak terurus, mungkin baru selesai panen.   Semakin sore dan si indah pun terlihat. Ini pertama kalinya lihat “bintang tumpah” di langit pulau Sulawesi. Sekitar 7 tahun lalu, lihat “bintang tumpah” tapi di tetangganya pulau Sulawesi, tepatnya di dermaga Pulau Barang Lompo. Milky way terlihat sangat jelas sekali. Polusi cahaya yang tidak ada, awan yang tak terlihat, dan bulan yang tak akan muncul membuat bintang-bintang yang biasa ga terlihat pun jadi terlihat. Di selatan crux ditemani tetangga-tetangganya yang banyak banget lengkap dengan milky way. Sayang kamera ga yang dibawa ga bisa tangkap keindahannya. Padahal lokasi cocok n pas banget. Deket sawah, ga ada pohon, pokoknya komplit. Ga bosen lihat wajah langit ini.  

Sekitar jam 9 malam diajak keluar naik motor ke arah jalan poros Takalar. Ada yang diincar disini, yaitu jagung rebus. Dari rumah sampai ke deratan pedagang jagung Cuma 10menit saja. Jagung rebus Takalar cukup terkenal. Menurut info, jagung di  Takalar lebih enak. Tapi bulan ini bukan musimnya jadi ga terlalu banyak. Pas kami sampai di jalan poros, sudah banyak yang tutup. Untung masih ada yang buka. Pedagang jual jagung yang sudah direbus di ember besar. Kalau ada pembeli mereka sajikan di piring, sebelumnya mereka sudah bersihin kulitnya dulu. Langsung disajikan dipiring. 1 piring = 1 porsi, harga satu porsi 10k. Isinya ada 10 jagung ( yang ukurannya tergolong kecil menurut gw). Jagungnya warnanya putih. Menurut info juga, jagung jenis ini yang dipakai untuk buat bassang (bubur jagung Makassar). Nih jagung rebus ada pengiringnya. Penjualnya juga kasih piring kecil yang isinya garam yang sudah dicampur cabe ulek, dan ada potongan jeruk nipis. He3 lagi-lagi ketemu jeruk nipis. Jadi makan jagung rebus pake jeruk plus garam pedas. Makannya terserah mau pake cara apa. 1 porsi itu sebaiknya dihabiskan atau dibawa. Karena kalau tak habis tetep aja harganya 10k.  

Ohya jalan poros ini juga sudah sepi jam 9 mlm. Lagi-lagi menurut info, banyak orang yang ga mau lewati jalanan poros ini. Karena kalau kena malam di daerah Jeneponto (daerah setelah Takalar), banyak orang-orang yang ganggu dan cenderung bahaya. Gara-gara daerah rawan itu berimbas jalan poros takalar juga jadi sepi. Posisi crux sudah bergeser. Makin malam ternyata makin dingin juga, padahal daerah yang ditempati ini jaraknya sekitar 5km dari pantai dan kurang lebih 1km dari sungai besar yang banyak empang bolu dan sawah. 

Jam 5 pagi, masih gelap, wajah langit sudah banyak berubah. Tapi “bintangnya masih tumpah”. Udara pagi yang dingin juga terasa sekali. Karena satu hal, harus balik lagi ke Makassar jam 5 pagi. Jalanan yang dilewati masih sepi sekali. Ga ada kehidupan. Ada kehidupan Cuma dari masjid, itupun orang yang abis solat subuh di masjid. Lewat pasar Takalar pun ga ada kehidupan. Masuk jalan poros, langit masih gelap, jalan tergolong sepi. Cuma ada 1 angkot yang keliatan lewat. 1-2 truk dan 3-5 kendaraan pribadi. Ada beberapa orang terlihat tunggu angkutan umum. Langit sudah agak terang sekitar jam 5.40 lewat Sungguminasa, tepatnya di daerah menuju Barombong. Jalanan macet. Banyak motor berkeranjang yang berhenti. Disini ketemu pasar pagi yang keliatannya Cuma pedagang sayuran saja. Banyak pengecer yang pakai motor yang beli sayuran seperti sawi, kangkung, bayam, labu, labu kuning dll. Yang jelas ga terlihat ada yang jual ikan. Sepintas juga ga lihat ada yang jual gorengan atau sarapan sederhana. Ga jauh dari sana sekitar 5 km ada lagi kepadatan jalan. Sama seperti tadi, ada transaksi sayur di pinggir sampai badan jalan. Lupa di daerah apa.

Itu sedikit oleh-oleh perjalanan singkat ke Takalar. Dapat bintang tumpah n jagung rebus.  

Blog EntryMay 26, '11 5:48 AM
for everyone
jika banyak masyarakat buang sampah sembarangan, pohon banyak ditebang dan diganti dengan aspal atau bangunan. semua orang punya mobil atau motor dan mereka selalu keluar bawa kendaraan pribadinya. bangunan banyak yang tinggi karena ga ada lahan kosong.
saat itu terjadi ada lahan yg sluas 1ha. ada kolam ikan lele n ikan mas. ada pohon yg dibangun rumah pohon. ada rumah kayu bertingkat dua yg mungil. ada pohon mangga apel n pohon2 lainnya. ada sedikit kebun singkong,ubi n jagung. ada tanaman cabe n tomat. ada vertikultur sayuran. ada juga berbagai tanaman berbunga. kira2 kalo gw yg punya rumah ky gt, gw bs jd kaya ga ya he3

Blog EntryApr 12, '11 6:57 AM
for everyone
gorengan jajanan satu ini menjamur di terminal kp melayu sore ini. ternyata di melayu masih 500an satu biji. kalo di blok m masih 2000 3 buah. tahu pisang goreng risol ubi singkong bakwan plus cabe rawit. he3 gorengan dg gerobak jadi jajanan favorit di kota yg makin macet ini.
di kota yg masih ada barang2 gw, makassar, yang sepintas gw peratiin, jajanan yg berjamuran adalah baso tusuk. rata2 500an satu biji. yg dagang pakai sepeda ato motor. dimakan dg saus kacang yg lebih berasa banyak cabe dibanding kacang.

Blog EntryApr 6, '11 1:23 AM
for everyone
Bagaikan matahari bersinar
bak surya yang sedang merekah dipandang mata
menerangi laut dan meyinari sungai
menyinari seluruh pantai
cahay tiang emas dan layar sutera
beserta kajang indah tenda kemilau hiasan perahu itu
barateng gading dan cadik emas
dayung kencana serta kalung berukir
mayang kelapa menghiasi pengikat punggung wangkang
Berjumbai-jumbai melaju ke depan
rajutan beribu hiasan layar.

diambil dari
La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, hal. 379

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Penasaran dengan La Galigo, ga sengaja nemu buku "La Galigo, Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia" di perpus Bakti. Buku terbitan Pusat Studi La Galigo Unhas dengan Pemda kab. Barru. 

Blog EntryMar 8, '11 10:35 AM
for everyone
"dari jawa ya?" pertanyaan itu pasti muncul kalau gw beli makanan daerah disini. lalu pedagang makanan akan nanya kok gw bisa tau makanan itu. he3 sering kepikiran apa orang dari daerah lain jarang beli makanan sejenis ini. yang bikin seru kalo dah ngobrol sama para pedagang makanan kaki lima ini, gw jadi tau jenis makanan lainnya. hasilnya berburu jenis makanan baru. he3 sepertinya ga akan selesai wisata kuliner sulsel. beberapa makanan yang gw beli di kaki lima pinggir jalan di kota makassar:

bassang
bubur jagung. warnanya putih, katanya dari jagung yang dihancurkan jadi tepung lalu dibuat bubur. ada sedikit pipilan jagung juga. rasanya manis gurih. agak sulit cari pedagang ini. ga sengaja ketemu di dekat ujung jalan kasuari jam 11 siang (hari kerja) harga 3000rupiah.

sangkolo
yang gw makan ketan hitam kukus plus serundeng plus ikan teri goreng plus lombok. kalo cari pedagang ini agak banyak. ketemu malam stlh magrib di salah satu pinggir jalan di jalan mesjid raya. harga 5000rupiah.

brocong
di jakarta gw mengenalnya sebagai pancong. mirip sama pancong hanya lebih kering luarnya dan tanpa parutan kelapa yang kasar. pedagang ini banyak, apalagi pagi. pedagangnya bawa gerobak, ada yang masaknya pakai kayu sebagai bahan bakar. harga 500rupiah perbuah.

Blog EntryFeb 25, '11 8:04 AM
for everyone
Masih di Makassar dan masih cari sesuatu yang bisa dilihat dan didatangi disini. Sempat cari-cari info tentang tradisi unik maulid disini, tepatnya yang ada di daerah Cikoang. Tapi ternyata perayaannya tidak ketika hari maulid. Gara-gara cari info maulid, akhirnya nemu deh beberapa tempat, ternyata di Makassar dan sekitarnya juga ada beberapa tempat yang mengadakan maulid. Tapi banyak yang jauh dan ga tau rute kesana. Di dekat masjid raya ada spanduk besar perayaan maulid bosowa (tanggal 22 Feb jam 19.30/ ba’da isya). Gw juga nemu spanduk kecil yang ada di ujung jln kartini. Perayaan maulid akbar kota makassar. Katanya banyak barzanji (pembaca Al Quran).

Iseng mau tau seperti apa perayaan maulid akbar itu, ya udah jalan lah ke karebosi. Rabu, 23 Februari 2011 Jam 19.30WITA sampailah gw di karebosi. Baru terdengar suara musik-musik berbahasa arab. Ga lama kemudian acara dibuka. Ternyata ada lomba buat hiasan kanre maudu. Yang ikut lomba dari mana-mana sekota makassar.  Dan sebelum acara utama di mulai ada pengumuman  pemenang dahulu. Hasil pemenang di pajang di depan. Pembaca barzanji ada di depan, banyak orangnya ada yang masih anak-anak sampai bapak2 yang berumur lanjut. Mereka duduk di tempat yang agak tinggi dengan latar belakang tulisan kegiatan. Tamu undangan dan para peserta lomba duduk di karpet, disebrang sana. Terlihat tidak terlalu ramai tapi nuansa putih jamaah menghiasi karebosi ini.

Setelah pembacaan pengumuman di panggung utama itu ternyata ada mc. Mc nya unik. Ada seorang bapak yang pakaiannya seperti sultan hasanudin,tp si bapak ini  pakai kacamata he3. dan dia bawa alat musik. Sambil bicara dengan logat makassra dan bahasa makassar dia gesek tuh alat musik, kalo nda salah nama alat musiknya sinrilik. Banyak orang yang suka dengan pembawaannya. Jadi inget pendongeng yang dari aceh itu. Acara maulid akbar ini sudah 6 kali dilaksanakan kota makassar. Kerjasama ma NU dan lembaga akkareso. Ada logo visit makassar. Hmmm acara vist makassar ga ah? Kok turisnya gw aja he3...

Disini banyak orang yang jadi peserta. Penonton wah kurang dari 10 kali. Pengamanan juga ga ketat. He3 jadi inget pas malam perayaaan imlek yang tgl 7 kmrn he3.  Ohya banyak yang foto2. Bahkan mereka pake tele. Sedihnya gw yang ga bawa pasangan jiwa si kamera itu. Gara2 kameranya sedang dipinjam orang. Ada orang-orang yang wajahnya keturunan arab yang kayanya juga akan menampilkan sesuatu. Ada tvri juga, kaya nya acara langsung tvri sulsel deh.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Al Quran. Ada seorang bapak yang duduk dengan tempat yang sidkit tinggi. He3 awalnya gw bingung dimana bapak itu berada. Sebab agak samar dengan para barzanji yang ada. Ternyata bapak itu ada di sudut kanan. Pokoknya yang posisinya paling tinggi Cuma tempat mc deh he3. walo tempatnya di belakang sana. Mc dengan alat musiknya memberi kesempatan ke pihak NU untuk kasih sambutan. Selesai NU, walikota makassar deh yang kasih sambutan. He3 tiba2 banyak gitu yang fotoin di depan, saat walikota berbicara. Selesai walikota, penceramah yang berbicara di mini panggung yang ada di kiri. Pas penceramah sedang jalan ke tempatnya, eh disudut ada hiasan kenre maudu yang dilombakan tadi, yang direbutin. Entah apa yang terjadi. Tapi Cuma satu aja yang hiasan yang habis. Sang mc sambil membunyikan musik sepertinya komentarin itu tapi dengan bahasa lucu n pakai bahasa makassar yang nda gw ngerti. Lalu mulailah sang penceramah memberikan hikmah maulidnya. Dan gw siap2 kembali.

Selalu setiap perayaan banyak sampah. Tapi untuk maulid ini kok ga ada petugas kebersihan yang siap sedia ambil sampah (beda dengan perayaan imlek kmrn disini). Ada yang seru juga, kotak makanan kecilnya bergambar “visit makassar 2011”. Ga banyak tukang motret yang ambil gambar, mungkin karena masih monoton kali yah momennya. Tapi sayang nya gw ga bawa kamera. Padahal banyak “multipod” yang bisa dipakai n ga banyak pergerakan disini.  

Blog EntryJul 27, '10 11:45 PM
for everyone

Akhirnya datang lagi ke wisata istana merdeka. Setelah 2 tahun 1 bulan. Kali ini datang lebih pagi. Mendaftar sebelum waktu kunjungan dimulai. Jam 8.30 sudah datang ke kantor secretariat Negara. Seperti biasa numpang permisi dulu sama penjaga di depan dan bilang mau wisata istana. Lalu tas nya di periksa mesin. Dan datanglah ke tenda mungil, ga permanent, tempat pendaftaran kunjungan. Petugas disana akan nulis nomor urut kunjungan dan catat jumlah orangnya. Disini juga tempat penyerahan KTP asli n dikasih kartu pengunjung istana. Karena dateng lumayan lebih pagi, akhirnya dapat nomor urut 8 (padahal Cuma berdua aja). Belum jam 9 jadi harus nunggu dulu. Jam 8.50 akhirnya 8 bis mengantri di dekat ruang tunggu. Petugas pun panggil rombongan pertama. Ternyata rombongan besar semuanya.

 

Sambil nunggu sela untuk ngekor rombongan besar yang mau masuk ke dalam, iseng-iseng liat cinderamata yang dijual. Barang-barangnya bervariasi, ada jam, kaos, topi dan sebagainya. Harganya yah lumayan lah… 15ribu sampai lebih dari 100ribu. Di ruang jualan ini juga ada tempat penitipan tas. Ada lokernya, yg bisa dibawa sendiri kuncinya. Tapi kalau rombongan besar lebih baik tas-tasnya bisa di taro di bis. Untuk masuk kedalam ga boleh bawa apa-apa. Boleh bawa HP hanya di non aktifkan.

Setelah nunggu 45menitan akhirnya masuk di rombongan anak SMA yang banyak. Maklum kita Cuma berdua. Kita masuk ke mobil yang kapasitasnya 40 orang. Nah bis ini mengantar sampai ke aula Sekneg. Di aula dikumpulin dulu 6 rombongan bis untuk mulai nonton film documenter tentang istana kepresidenan di Jakarta. Durasinya Cuma 15 menit. Isinya tentang sejarah singkat dan fungsi ruang di istana merdeka.

 

Selesai nonton ada 1 guide yang bawa toa, yang bawa kurang lebih bawa 2 rombongan bis. Yang akan jadi guide selama di istana. Ceritanya kita jalan kaki dari aula ke pintu samping komplek istana. Jaraknya cukup dekat.

 

Guidenya menceritakan beberapa bangunan dan taman yang ada di komplek Sekneg. Masuk ke wilayah istana lagi-lagi masuk pintu detector untuk kedua kalinya. Waktunya antri. Sama seperti kunjungan pertama dulu (banget), sang guide yang dari TNI/Polri, cerita tentang pohon trembesi besar yang usianya sudah tua di antara semua pohon yang ada di komplek istana.

 

Lalu tiap-tiap rombongan di dalam satu kelompok ini di foto di depan istana. Kalau berminat, fotonya bisa diambil setelah selesai keliling. Lalu masuklah ke istana merdeka. Guide cerita tentang ruangan yang ada di istana merdeka. Dia cerita tentang fungsi ruangan dan koleksi yang ada di dalam istana. Keluar dari dalam istana cerita lanjut tentang bangunan dan fungsinya, tentang taman, koleksi patung dan beberapa tumbuhan yang ada dalam komplek istana. Kurang lebih keliling istana sekitar kurang dari 1 jam. Sebelum kembali ke Sekneg, disediakan air minum untuk pengunjung dan bis yang mengantar kembali ke tempat awal.

Sebelum pulang, nunggu hasil foto dulu. Ga lebih dari setengah jam sudah jadi. Ukuran 6R yang ditukar uang 10ribu. Ambil barang di penitipan barang, ambil KTP, lalu pulang.

Ada beberapa aturan untuk kunjungan ke istana kepresidenan antara lain jangan pakai sandal, jeans, dan kaos, serta bawa KTP asli. Ohya di dalam ga bisa foto-foto jadi kamera harus disimpan sementara. Untuk info kunjungan bisa telepon dulu ke istana.

 

kunjungan Istana Merdeka

Sabtu & Minggu

Pendaftaran pukul 09.00-13.00 WIB

Info: 021-23545001

 

(250710)


Blog EntryMay 11, '10 9:55 AM
for everyone

Menunggu Waktu

 

            “Kamu pembantu baru di sini ya?” tanya Tata kepada makhluk baru yang ada didepannya.

            “Ya. Baru hari ini aku tiba di sini. Aku membantu Mia, tapi sepertinya pekerjaan kita benar-benar berbeda ya?”

            “Sepertinya begitu. Oh ya aku Tata.”

            “Aku Sela. Sudah berapa lama kamu membantu Mia? tanya Sela sopan. Maklum saja ia benar-benar baru di tempat ini.

            “Aku sudah lebih dari lima tahun disini. Aku juga punya teman yang membantuku, namanya Sesil. Mungkin tadi kamu sudah bertemu dia.”

            “Oh dia, ya aku sudah bertemu. Tapi dia terlihat sangat muda sekali dibanding kamu.” 

            Waktu sudah menunjukkan pukul 21.46. Lampu yang menyala di rumah ini semakin berkurang satu demi satu. Hampir semua ruangan di rumah ini berubah menjadi gelap.

            “Lebih baik kamu istirahat dulu. Besok banyak pekerjaan yang harus dilakukan.”

            “Ok, Ta. Kita sepertinya sama-sama harus istirahat dahulu.”

***

Pagi menjelang, aktivitas di dalam rumah ini sudah dimulai sebelum matahari terbit. Tata dan Sela sudah bangun dan menunggu perintah majikan mereka, Mia.

            “Ok. Sela dan Tata sekarang kita pergi ke kampus,” kata Mia dengan suara yang tidak bersemangat. Rupanya ia masih sangat mengantuk. Tapi ia harus mengejar kereta agar tidak terlambat sampai ke kampus.

            Selama perjalanan banyak yang dibicarakan oleh Sela dan Tata, walaupun keadaan kendaraan ini ramai dengan penumpang. Namun, sepertinya Mia tidak terlalu peduli dengan mereka berdua. Sesekali terlihat Mia memperhatikan keadaan Sela, asisten barunya. Sering kali Mia memperhatikan Tata, yang berada lebih dekat dengannya.

            “Kamu terlihat sakit, Ta. Semenjak kemarin pertama aku melihatmu, sepertinya ada yang tidak beres dengan kamu.”

            “Aku ini sudah semakin tua, La. Kau lihat banyak kulitku yang tidak sebagus dulu. Dan aku semakin melemah. Mungkin sebentar lagi akan mati. Tapi jika mati siapa yang akan menangisiku ya?”

            “Sela. Tapi kenapa Mia masih memakai kamu? Aku tidak mengerti.”

            “Aku juga tidak tahu, tapi terkadang aku merasa senang walaupun aku seperti ini ia masih mempercayaiku.”

            Kendaraan umum ini tidak begitu sesak. Sehingga pembicaraan yang terdengar pelan ini tidak terganggu oleh siapapun. Tapi tidak seorangpun yang terganggu dengan semua pembicaaraan mereka.

            “Kamu suka kerja dengan Mia, Ta?”

            “Entahlah aku tidak yakin apakah aku suka dan nyaman untuk bekerja dengan dia. Hanya saja kadang aku merasa sangat marah. Kau tahu selama satu tahun aku merasa dia tidak pernah memperhatikanku. Dan saat aku semakin melemah, terkadang ia terlalu memaksakanku untuk membantunya.”

            “Kenapa kamu tidak pergi saja?”

            “Kalau aku bisa, ingin rasanya pergi. Tapi kenyataannya itu tidak mungkin terjadi.”

            Perbincangan keduanya terhenti sejenak. Akhirnya mereka tiba di kampus Mia. Sela terdiam, memperhatikan sekitarnya. Tempat yang baru pertama kali dikunjunginya. Ia merasa tak percaya, kalau ia bisa datang ke tempat seperti ini. Ia melihat banyak teman-temannya dengan pekerjaan yang sama dengan dirinya. Ada perasaan senang ketika melihat ada pula yang senasib dan sepenanggungan.

            “Selamat datang di kampusku, Sela,” kata Mia.

            “Terima kasih. Kamu harus sering mengajakku kesini, Mia,”  balas Sela perlahan.

            “Pasti kamu senang ada disini. Aku juga merasa senang, tapi dengan keadaanku seperti ini aku juga merasa malu untuk bisa keluar dari rumah,” ucap Tata kepada Sela. Sela tersenyum. Sedangkan Mia sudah sibuk dengan teman-temannya.

            “Mia, wah bawa teman baru nih. Kenalan dong!” kata salah satu teman Mia. Dan saat itu pula Sela mendapatkan teman baru yang mempunyai pekerjaan yang sama sepertinya.

***

            “Aku lelah Ta. Hari ini melelahkan juga ya. Jalan sama Mia itu benar-benar menguras tenaga. Pulangnya saja sampai malam begini,” keluh Sela.

            “Maaf ya aku lupa kasih tahu ke kamu kalau kita bekerja dengan Mia harus punya kesabaran dan tenaga yang besar. Dia selalu pergi kemana-mana, jadi beban kita semakin berat.”

            “Kamu juga terlihat lelah. Lukamu ada yang semakin membesar.”

            “Tidak apa-apa. Sebentar lagi sepertinya aku akan pergi dari Mia.”

“Kamu jangan bicara begitu. Hari ini tidak banyakkan beban yang kamu bawa?”

“Tidak juga. Tapi aku sangat lelah sekali.”

“Ya sudah sekarang istirahat saja. Aku dengar dari Mia besok kita akan pergi keluar kota.”

“Sebentar lagi aku istirahat, kamu duluan saja. Aku masih harus membantu Mia menyiapkan barang-barang untuk besok.”

“Ya sudah aku duluan. Mudah-mudahan Mia cepat beres-beresnya.”

Tak lama kemudian Mia datang ke arah Tata. Dengan membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkannya, seperti baju dan celana. Tata membantu Mia menyiapkan semua itu selama satu jam lebih.

***

            Sela dan Tata hanya diam saja di dalam sebuah tenda yang berada di kawasan camping yang berada di kaki Gunung Salak. Mia meninggalkan mereka berdua, tanpa memperhatikan keadaan mereka berdua.

“Sepertinya beban yang Mia beri ke kamu banyak sekali. Memang dia tidak perhatikan kondisi kamu? Keadaan kamu akan semakin parah.”

“Aku tidak peduli, La. Aku sudah lelah untuk berteriak ke Mia. Dan dia tak pernah mendengarkanku.”

“Ya aku juga bingung bagaimana cara untuk membantu kamu. Bagaimana caranya supaya Mia mendengarkan dan mengerti keadaan kamu?”

“Sudahlah. Aku hanya bisa bersabar saja. Cukup seperti ini, memang nasibku sudah digariskan seperti ini. Suatu saat nanti kamu akan mengalami yang aku rasakan sekarang. Ketika waktu itu datang tak ada sesuatu yang akan membantu.”

“Aku tahu tugas kita hanya melayani dengan baik tapi tidak harus sampai begini.”

“Sela. Aku hanya ingin kamu diam saja. Kau tahu tidak hanya aku yang menderita, tapi Mia pun menderita seperti yang aku rasakan. Yang kau rasakan juga sama seperti yang Mia rasakan pula Sela. Jangan banyak berkomentar tentang aku,” pinta Tata dengan bijaksana.

Sela hanya bisa menyaksikan keadaan Mia dan Tata. Dia memikirkan apa yang dikatakan Tata Selama ini. Semua penjelasan Tata sangat masuk akal, namun ada hal yang tidak bisa diterima oleh Sela.

“La, kamu harus tahu, kesabaran itu sangat penting bagi kita yang hanya menjadi pembantu.”

“Ya, aku akan sabar.”

“Tugas kamu adalah melindunginya maka lakukan tugas itu dengan baik, karena kamu mempunyai fungsi tersebut, dan hanya kamu yang bisa melakukannya. Aku tidak akan bisa menggantikan tugasmu.”

“Tapi aku ingin sekali membantu kamu. Keadaan kamu semakin parah, Ta.”

“Aku tahu. Aku tahu sebentar lagi aku tidak akan ada disini lagi. Mungkin orang lain yang akan menggantikan aku. Tapi aku tidak boleh menyesal karena aku akan hilang dari hadapan kalian.”

“Kamu semakin membuat aku bingung dan sedih, Ta. Sudah jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau mendengarkan kamu.” Sela mencoba menghentikan pembicaraan itu. Tapi Tata tetap berbicara.

“Aku senang sekali bisa kemanapun. Aku senang walaupun karena bekerja keras seperti ini tubuhku semakin hancur.”

“Kamu bicaranya semakin aneh.”

“Kau tahu, sebelum kamu ada juga yang melakukan tugas kamu. Namanya ialah Septa. Keadaannya sama seperti aku saat ini. Tubuhnya yang kuat semakin lama semakin hancur sama seperti aku saat ini.”

Sela tidak mempedulikan semua kata-kata yang dikeluarkan oleh Tata. Tapi ia pun tak bisa pergi dari tempat tersebut. Mau tidak mau ia mendengarkan semuanya.

“Kau tahu, Septa selalu pergi bersama Mia, ia benar-benar melaksanakan tugasnya untuk melindungi Mia. Kemudian tubuhnya yang sudah rentan itu benar-benar hancur. Dan Mia membiarkannya di jalan. Saat itu aku berpikir bahwa Mia sangat kejam, ia benar-benar tidak peduli.”

Sela tertarik mengetahuinya. Tapi ia sedikit malu untuk kembali bertanya dan meminta Tata melanjutkan ceritanya. Tapi Tata kehilangan akal sehatnya. Ia terus bercerita tanpa memperhatikan makhluk yang ada di depannya.

“Tapi aku sadar kita ini pembantu. Kau tahu Sel, saat tubuh Septa mulai hancur, Mia sangat memperhatikannya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk membuat Septa kembali seperti semula.”

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Sela dengan mimik ingin tahu.

“Kau ingin tahu juga ya?” tanya Tata sambil tersenyum.

“Teman-teman Mia, menganggap Mia adalah orang yang sangat sayang kepada Septa. Tapi di otak Mia, beranggapan bahwa Septa harus bekerja sampai ia benar-benar tidak bisa berguna lagi, setelah itu Mia baru akan mencari pembantu yang lain. Setelah Septa tidak ada maka ia akan mencari yang lainnya dan makhluk itu adalah kamu, Sela.”

“Nasib kamu juga seperti dia? Mia pernah memperhatikan kamu seperti itu ya?”

“Ya, begitulah. Kau lihat goresan yang tertutup ini. Mia menutupnya untukku, agar aku bisa bekerja,”lanjut Tata sambil memperlihatkan sebuah goresan kecil ditubuhnya.

“Semua goresan ini?”

“Ya, benar,” jawab Tata singkat.

“Kamu tidak merasa sakit?”

“Ya, mungkin terasa sakit. Tapi aku merasa lebih senang suatu saat nanti ia akan membuangku saat aku benar-benar ‘mati’ dan tak ….” Tata tidak melanjutkannya. Tata yakin Sela pasti mengerti yang ia maksudkan.

“Mmmmmm,”  balas Sela.

“Sejujurnya aku merasa lelah sekali. Tapi aku tidak bisa berhenti, tidak sekarang, ini bukan waktunya.”

Pembicaraan terhenti. Tata dan Sela masing-masing berpikir tentang diri mereka sendiri. Tata berpikir bahwa mungkin besok ia tidak akan terlihat lagi. Sedangkan Sela berpikir suatu saat nanti, ia akan seperti Septa.

***

Tiga hari berlalu setelah Tata menceritakan semua peristiwa yang pernah terjadi pada Septa. Sepintas tidak ada yang berbeda. Tapi apa yang terjadi pada Tata, sangat mudah sekali terlihat oleh Sela. Sela melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Tata. Namun ia selalu berpikir, Mia akan membantu menyembuhkannya semua luka yang ada.

Satu hari kemudian Sela merasa bingung, mengapa ia tidak melihat Tata Selama satu hari ini. Tak ada pikiran negatif yang muncul dari Sela. Namun tiba-tiba ia merasa terkejut ketika Mia membawa sebuah resleting hitam yang sepertinya tidak asing bagi Sela.

“Tata….Tata…Tata..” panggil Sela, dengan nada panik. Namun Sela tidak dapat mendengar suara Tata.

“Mia…Tata mana?” Tanya Sela kepada Mia. Namun sampai kapanpun pertanyaan dengan nada keras itu tidak akan terdengar oleh Mia.

Sebuah resleting hitam tergeletak di atas lantai, tepat di depan Sela. Kemudian Mia datang kembali membawa kain hitam, yang dia kenal. Ya itu adalah tubuh Tata. Tata sebuah tas hitam, temannya, kini benar-benar hancur. Bagian-bagian tubuhnya berserakan diatas lantai. Sela tidak lagi bisa melihat bentuk sempurna Tata, sebuah tas hitam.

“Suatu saat aku, mungkin akan seperti Tata dan Septa si sepatu hitam, entah kapan. Aku hanya sebuah sepatu coklat. Suatu saat aku akan rusak dan Mia pun tidak dapat memperbaikiku. Kemudian Mia akan membuangku, entah dimana. Mungkinkah aku akan berada di tempat sampah yang bau?”   (23052005)

 

* cerpen seorang teman


Blog EntryApr 29, '10 8:27 AM
for everyone

BESAR DAN KECIL DI BELANDA

Banyak hal yang menarik dari Belanda. Ketika saya masih kecil saya sangat tertarik dengan kincir angin yang ada di sana. Sempat berpikir untuk punya rumah dengan model kincir angin. Seiring bertambahnya umur, tidak hanya kincir angin yang saya tahu dari Belanda. Makin banyak informasi yang saya dapat tentang negara yang juga dikenal dengan tulipnya ini. Negara ini memang memiliki keunggulan di bidang perairannya. Namun ternyata tidak hanya itu, banyak hasil pemikiran dari ahli-ahli di Belanda yang menjadi produk menarik dan sangat bermanfaat. Mulai dari produk berukuran besar sampai kecil.

Beberapa tahun lalu saya datang ke sebuah pameran yang berhubungan dengan perairan. Di pameran tersebut ada stan yang memberikan informasi tentang produk alat berat dari Belanda. Ada sebuah bulletin yang saya dapatkan dari stan tersebut, tentang berita terbaru mengenai pengelolaan perairan yang ada di Belanda. Di dalam buletin itu saya mendapatkan banyak informasi yang baru saya ketahui mengenai pengelolaan delta yang ada di Belanda.

Penahan badai

Dalam buletin itu ada tiga gambar yang menarik. Gambar tentang bentuk-bentuk penahan badai yang ada di Belanda sampai dengan tahun 2007. Tiga penahan badai tersebut dibangun untuk melindungi daerah-daerah delta yang padat penduduk. Belanda tidak ingin peristiwa banjir besar yang terjadi pada tahun 1953, yang menewaskan 1800 orang, terjadi kembali. Belanda ingin melindungi penduduknya dan berbagai sumberdaya yang ada disekitar delta. Sehingga saat badai, aktifitas penduduk tetap bisa berjalan, walaupun tidak seperti biasa. Penahan badai ini juga dibangun untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang terjadi di dunia.

 

 

 

 

 

 

Penahan Badai Oosterschelde
Sumber gambar: http://www.nedwater.eu/Delta%20Technology.htm

Penahan badai yang pertama dibangun adalah Oosterschelde. Penahan badai ini dibangun pada tahun 1986. Semenjak dibangun sampai dengan tahun 2004 telah ditutup sebanyak 23 kali ketika badai. Penahan ini dibuat dengan rancangan 62 pintu air dengan panjang 3000m. Oosterschelde adalah bangunan hidrolik terbesar yang berada di dunia. Bangunan besar ini berada di daerah delta Zeeland.  

 

 

 

 

 

 


Penahan Badai Maeslant
Sumber gambar: http://gcaptain.com/maritime/blog/wp-content/uploads/2008/09/stormbarrier_1.jpg

Sebelas tahun kemudian Belanda kembali membangun sebuah penahan badai dengan model yang berbeda. Kali ini dengan model dua gerbang ayun. Diberi nama penahan Maeslant, dengan panjang 360m. Dibangun dengan tujuan melindungi delta Rhine dan melindungi koridor pelayaran dari pelabuhan Rotterdam.  Penahan badai ketiga yang dibangun adalah Blgstuw Ramspol. Penahan ini dibangun pada tahun 2002. Sampai dengan tahun 2007 penahan yang memiliki model tiga bola apung karet ini pernah ditutup sebanyak 12 kali selama badai. Dibangun untuk melindungi delta Ijssel. Pengetahuan dan keahlian yang dimiliki untuk membangun penahan badai ini, tidak hanya terbatas berkembang di dalam negara Belanda saja. Saat ini para ahli yang mengerjakan ketiga penahan badai tersebut, juga membantu pembangunan penahan badai lainnya di berbagi negara.

Disain Sepeda

Sebuah bangunan penahan badai tentunya mempunyai ukuran yang sangat besar. Bagaimana dengan benda-benda yang kecil? Belanda dan sepeda adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan. Banyak sepeda dengan model yang unik yang bisa ditemui di Belanda. Saya pernah melihat sebuah film yang menggambarkan transportasi di Belanda. Ternyata banyak bentuk-bentuk yang unik, lucu, dan juga bermanfaat. Sepeda yang mereka miliki, dapat divariasikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengendarannya.

 

 

 

 

 

 

 


Variasi bentuk sepeda di Belanda
Sumber gambar: http://www.ski-epic.com/amsterdam_bicycles/

Beberapa waktu lalu saya membaca ada beberapa disain sepeda yang dibuat oleh disainer Belanda. Salah satu sepeda dengan disain yang menarik adalah sepeda yang diberi nama Carbon Bike. Sepeda ini hasil karya Tjeerd Veenhoven, seorang disainer industri yang belajar mendisain meja atau kursi. Carbon Bike dibuat dengan menggunakan kabel karbon basah yang diisi dengan epoxy resin. Perancangnya ingin mendisain ulang sebuah sepeda sederhana, namun sepeda ini dibuat dengan bagian-bagian yang dapat dipergunakan untuk melompat-lompat untuk menaiki bukit. Menurut perancang sepeda ini, karbon bukanlah bahan yang sulit, yang membuat karbon menjadi teknologi tinggi adalah rakitannya.

 

 

 

 

 

 

 


Carbon Bike
Sumber gambar: http://www.tjeerdveenhoven.com/blog/?p=1

Tidak hanya Tjeerd yang mendisain ulang sepeda yang sudah ada. Ada pula Wytze van Wansum merancang sepeda yang diberi nama Duchess. Sebuah sepeda sederhana, dimana semua kabel yang biasa ada di sepeda berada di dalam pipa. Rencananya sepeda ini akan di produksi oleh perusahaan di Amerika. Ada pula sepeda yang diberi nama Cyclone, dirancang oleh Herman van Hulsteijn. Sepeda ini memiliki kurva panjang yang melengkung dari sadel ke setir sampai di ban belakang. Rancangan ini membuat pengendara sepeda tampak mengapung di udara.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari negeri yang penduduknya tidak lebih dari 17juta ini. Dari benda-benda berukuran besar sampai dengan benda-benda berukuran kecil. Tentunya hasil-hasil yang mereka hasilkan, dapat dijadikan inspirasi untuk menemukan sesuatu yang bermanfaat dan berguna dan sesuai dengan yang dibutuhkan di Indonesia.

Sumber :
Made in Holland: Teknologi Delta, dikeluarkan oleh EVD (Badan Bisnis dan Kerjasama Internasional, Kementrian Ekonomi Belanda)  September 2007.
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kisah-tiga-sepeda-disain-Belanda
http://gcaptain.com/maritime/blog/wp-content/uploads/2008/09/stormbarrier_1.jpg
http://www.nedwater.eu/Delta%20Technology.htm
http://www.deltawerken.com/The-Oosterschelde-storm-surge-barrier/324.html
http://www.tjeerdveenhoven.com/blog/?p=1
http://www.ski-epic.com/amsterdam_bicycles/


Blog EntryFeb 12, '10 12:41 AM
for everyone

Pernah mendengar Taman Kridaloka? Taman ini terletak di dalam kawasan Senayan. Tepatnya di belakang Kolam renang Senayan. Jika ingin masuk ke dalam area ini, maka kita perlu mengerluarkan uang Rp.5.000,- untuk hari biasa, dan Rp. 6.000,- untuk hari Minggu. Taman ini biasa dipakai untuk latihan klub senam di pagi hari. Namun pengunjung umum dapat pula beraktivitas di dalamnya. Terdapat sepeda statis dan jogging track sepanjang 1km . Tapi tidak hanya sarana olah raga yang ada di taman yang terlihat sangat terawat ini. Kita bisa lihat mendengar burung bersuara dan tentunya melihat banyak jenis pohon di dalamnnya. Beberapa dari pohon yang berada dalam kawasan ini  jarang dilihat di kota. Lebih dari 36 jenis pohon berada di dalam kawasan yang cukup luas ini. Ternyata banyak dari pohon-pohon ini sudah langka. Sebagian pohon-pohon yang berada disana bisa dibilang masih muda, sepertinya hasil pembibitan, dan sengaja di tanam di area Kridaloka.

Pohon-pohon yang ada disana antara lain  duku, mundu, melinjo, flamboyant, rambutan, leci, biola cantik, khaya tiang, kepel, spantodea, mahoni, angsana, bungur, maja, salam, jeruk, jamblang, jambu air, belimbing manis, jati, kirai payung, sawo duren, asam jawa, alpukat, kayu manis, nangka, gandaria, lobi-lobi, kelapa, bintaro, sawo kecik, tanjung, glondongan tiang, kol banda, jambu bol, mahkota dewa, Batavia.  

Di akhir Januari kemarin, jambu bol mulai berbuah dan matang. Sedangkan sekitar bulan Oktober-November, buah pohon kepel sudah terlihat. Nah bagi yang berminat lihat pohon-pohon yang jarang beredar di kota Jakarta atau yang mau coba hitung kecepatan  jalan sejauh 1km, bisa datang ke taman Kridaloka.


Blog EntryJan 2, '10 6:37 AM
for everyone
Langit malam 31 Desember 2009 terlihat cukup cerah, walaupun awan terlihat mulai menebal di sore hari, tapi ternyata awannya ga menimbulkan hujan. Bisa dibilang tergolong cerah malam itu. Paling tidak sampai gerhana bulan sebagian berlangsung tanggal 1 Januari 2010 ini. Jam 1 malam, awan-awan sedikit menutupi langit malam. Cahaya bulan yang terang masih mempersilahkan beberapa rasi bintang dibelahan langit selatan terlihat. Bintang-bintang di rasi crux, centaurus, canis mayor, terlihat jelas. Rasi orion pun terlihat jelas, walau posisinya cenderung lebih dekat dengan bulan. Sedang langit utara ga bisa terlihat, maklum ada atap rumah orang. Jadi gatau kondisi langitnya dengan pasti. Jam 1.53 gerhana mulai terlihat (itu menurut info). Tapi baru ngeliat keluar lagi lihat langit jam 2.10 WIB.  Walaupun di sekitar bulan ada awan tapi masih terlihat posisi bulan yang sedang gerhana. Bayangan hitamnya terlihat jelas di bagian kiri atas, walau cuma sedikit. Menurut info gerhana sebagian ini hanya terlihat 7% di beberapa daerah di Indonesia. Cuma 10menit mengamati langit, tak terlihat bintang jatuh di daerah selatan. Nah untuk gerhana bulan sebagian nya berlangsung sampai 2.53 WIB. Karena angin juga semakin dingin jadinya pengamatan langitnya dihentikan.  Ngantuk :)

Pages:12